Di suatu pagi, dua hari menjelang datangnya Bulan Ramadhan 1440 Hijriyah, warga Kampung Tambakrejo menyambutnya dengan suka-cita. Sebelum akhirnya senyum kegembiraan menyambut bulan suci itu terenggut oleh puluhan pria berpakaian serba cokelat datang tanpa diundang. Belasan di antaranya memegang kekang anjing yang menyalak bersahutan ke arah warga.

Puluhan pria berseragam cokelat itu ialah anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang. Pagi itu (03/05/19) mereka mendapatkan tugas khusus untuk menggusur warga Kampung Tambakrejo dari bantaran Banjir Kanal Timur (BKT) Kota Semarang yang telah belasan tahun menjadi tempat tinggal mereka. Rencananya, Kampung Tambakrejo akan “dibersihkan” hari itu juga.

Warga Tambakrejo, menolak keras rencana itu. Sebab sebelumnya telah disepakati bersama bahwa warga Tambakrejo tidak akan digusur sebelum tempat tinggal sementara, selesai dibangun. Atas berbagai pertimbangan, akhirnya puluhan anggota Satpol PP Kota Semarang mendapatkan komando untuk mundur. Mereka mengancam akan datang dengan personel lebih banyak untuk menggusur warga jika Tambakrejo belum juga disterilkan hingga 06 Mei 2019.

Warga Tambakrejo berupaya mencari suaka. Mereka mengundang berbagai jejaring mahasiswa di Kota Semarang serta organisasi lain yang masih peduli dengan keadilan dan kemanusiaan. Hingga terbentuklah Aliansi Peduli Tambakrejo yang vokal menyuarakan dan memperjuangkan hak warga Tambakrejo yang tergusur.

Di tengah pencarian suaka, sebuah kabar datang dari surat kabal lokal yang memberitakan bahwa Kampung Tambakrejo akan digusur pada 9 Mei 2019. Tepatnya hari ketiga bulan Ramadhan 1440 Hijriyah. Apapun yang terjadi, penggusuran akan tetap dilakukan pada tanggal itu, mengingat proyek normalisasi BKT Kota Semarang sudah molor jauh dari target.

Mengetahui kabar itu, warga Tambakrejo dan Aliansi Peduli Tambakrejo segera berkumpul di rumah salah seorang warga. Melakukan konsolidasi dan menyusun strategi untuk menghadapi penggusuran pada hari Kamis (09/05/19). Konsolidasi yang berlangsung berjam-jam, terasa sangat serius dan menegangkan. Dalam pertemuan tersebut warga dan anggota Aliansi Peduli Tambakrejo sepakat untuk menghadang penggusuran. Menyusun pagar betis demi memperjuangkan keadilan dan menegakkan kesepakatan yang telah disetujui bersama.

Hari penggusuran pun tiba. Sekitar pukul delapan pagi, ratusan personil gabungan Satpol PP dan Polisi Resor Kota Semarang menggusur paksa warga Tambakrejo. Tiga alat berat digunakan untuk merubuhkan satu demi satu rumah warga yang berdiri di bantaran BKT kota Semarang. Lantas bagaimana dengan nasib warga dan anggota Aliansi Peduli Tambakrejo yang membuat pagar betis untuk menghadang penggusuran pagi itu?

Mereka dipukuli dan dibubarkan paksa oleh puluhan anggota personil gabungan. Jumlah antara kedua belah pihak tak seimbang. Pagar betis pun runtuh. Belasan warga Tambakrejo dan mahasiswa mengalami luka di sejumlah anggota badan karena pukulan. Bahkan tak sedikit pula yang terjatuh, terinjak-injak. Inikah wujud dari keadilan?

Di sisi lain kerumunan dan bentrokan, tiga alat berat tanpa pandang bulu mengobrak-abrik semua bangunan warga Tambakrejo. Tak sampai pukul 17:00 WIB, puluhan rumah warga hanya menyisakan puing-puing. Perempuan, orang tua, dan anak-anak hanya bisa menangis dan histeris. Meratapi nasib ketika melihat rumah yang telah belasan tahun mereka huni, kini telah menjadi hamparan puing-puing. Beberapa perempuan bahkan tak sadarkan diri, tak kuasa menyaksikan bencana pagi itu.

Tiga alat berat mengamuk tak terkendali. 80 Anak-anak Tambakrejo kehilangan seragam sekolah serta gedung Taman Pendidikan al-Quran (TPQ) tempat mereka belajar mengaji. Alat berat juga merobohkan sebuah musholla yang menjadi tempat ibadah warga. Seluruh bangunan telah dirobohkan. Satu-satunya yang tersisa hanyalah duka lara warga yang kehilangan segalanya. Bahkan, mungkin mereka juga telah kehilangan harapan dan kepercayaan.

Negara Menggusur, Tangan Rakyat Saling Mengulur

Dengan dalih melaksanakan tugas negara, ratusan anggota personil gabungan dan tiga alat berat dengan angkuh meninggalkan Kampung Tambakrejo yang hanya tinggal nama. Senja menjelang buka puasa, warga berkeliling menyisir puing-puing rumah mereka. Mencari harta benda yang masih bisa diselamatkan. Di antara raut wajah warga Tambakrejo, seolah menggantung tanda tanya besar. “Mengapa kesucian bulan Ramadhan harus dikotori dengan tindakan yang tidak adil semacam ini?”

Anggota Aliansi Peduli Tambakrejo masih setia mendampingi warga, tak tinggal diam. Ketika upaya nyata melalui pagar betis tidak membuahkan hasil, kepedulian dialihkan ke dunia maya. Melalui hastag #RakyatBantuRakyat, anggota Aliansi Peduli Tambakrejo mengajak warga Kota Semarang untuk peduli akan nasib korban penggusuran. Dengan cepat, gerakan ini menyebar ke berbagai jaringan seniman, mahasiswa, akademisi, tokoh agama, dan kelompok lain di Kota Semarang yang masih peduli akan tegaknya keadilan.

Perlahan namun pasti, bantuan dari masyarakat luas mulai berdatangan ke Tambakrejo. Sembako, kasur lipat, selimut, obat-obatan, sebagai wujud kepedulian masyarakat kembali menghidupkan harapan warga Tambakrejo. Untuk menampung dan mengkoordinasikan bantuan itu, relawan membuat posko Penggusuran Tambakrejo. Bahkan anggota jejaring di berbagai kota turut menggelar penggalangan dana dan dukungan atas perjuangan warga Tambakrejo. Ketika negara menggusur, tangan rakyat saling mengulur memberikan bantuan.

Selama kurun waktu dua minggu pasca penggusuran tidak satupun instansi negara, baik pemerintah daerah apalagi pemerintah pusat, datang menyambangi warga Tambakrejo. Bahkan bantuan yang datang diblokir oleh pemerintah kelurahan dan kecamatan. Warga memilih bertahan dengan kondisi seadanya, mereka tinggal di tiga tenda darurat yang diberikan oleh solidaritas. Sarana air bersih, mandi dan toilet masih sulit terpenuhi.

Besarnya dukungan dari masyarakat sipil atas penggusuran warga Tambakrejo pada akhirnya membuat pemerintah Kota Semarang melunak. Beberapa orang perwakilan Pemerintah Kota Semarang kemudian hadir menyambangi warga Tambakrejo di Tenda Darurat. Dinas Sosial dan Dinas Kesehatan sesekali datang untuk memberikan bantuan makanan dan obat-obatan.

Setelah Tiga Bulan Tergusur

Berbagai kecaman dan kepedulian mengalir setelah video penggusuran Kampung Tambakrejo viral di media sosial. Meskipun bisa dibilang terlambat, akhirnya Walikota Semarang, Hendrar Prihadi bahkan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo datang mengunjungi korban penggusuran. Melalui kunjungan itu, pemerintah berkomitmen untuk merealisasikan janji-janji yang sebelumnya diutarakan. Salah satunya membuat Kampung Tambakrejo baru di atas Kali Banger.

Sembari menunggu rampungnya pembangunan hunian permanen, warga Tambakrejo diminta untuk pindah ke hunian sementara (huntara) yang baru direalisasikan tiga minggu setelah penggusuran. Menjelang hari raya idul fitri, barulah warga Tambakrejo pindah dari tenda darurat ke huntara yang sebenarnya tidak cukup untuk menampung jumlah warga Tambakrejo. Mereka terpaksa berlebaran dalam kondisi serba terbatas dan seadanya.

Untuk menghidupkan kembali harapan dan semangat warga Tambakrejo, kawan-kawan Aliansi Peduli Tambakrejo berinisiatif mengadakan kegiatan bermain bersama anak-anak. Mengecat huntara agar terlihat lebih hidup dan ceria hingga mengadakan halal bi halal. Dengan dana swadaya, warga dan anggota Aliansi Peduli Tambakrejo juga membangun kembali Mushola dan TPQ agar kegiatan keagamaan tetap berjalan seperti semula.

Adanya upaya ini membuat kehidupan sehari-hari warga Tambakrejo berangsur pulih, meski banyak kebutuhan dasar mereka yang belum dipenuhi negara. Selama tiga bulan pasca penggusuran mereka hidup secara terbuka tanpa sekat-sekat per KK. Kamar mandi dan toilet sangat tidak mencukupi. Kondisi psikologis warga cukup terganggu karena hidup dalam kondisi serba terbatas dalam waktu cukup lama.

Hingga September 2019, warga Tambakrejo berjejal tinggal di dua unit huntara. Satu unit huntara baru masih dalam tahap pembangunan yang diharapkan dapat menampung jumlah warga dalam kondisi yang lebih layak dari sebelumnya. Pemerintah Kota Semarang berjanji untuk membangun kembali Kampung Tambakrejo maksimal di tahun 2020. Itu artinya warga harus tinggal di huntara selama paling tidak setahun dengan kondisi serba terbatas. Perjuangan warga masih sangat panjang dan tentunya membutuhkan solidaritas dari kawan-kawan. Anak-anak, Ibu-ibu, Pemuda-pemudi, dan Bapak-bapak Tambakrejo rindu kawan-kawan!

Mari kawan-kawan kita bersamai perjuangan warga Tambakrejo sampai menang!

Abdul Ghofar (Relawan Aliansi Peduli Tambakrejo)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.