Series Gadis Kretek yang disutradarai oleh Amila Andini dan Ifa Isfansyah (November, 2023) menjadi tren perbincangan di dunia perfilm-an. Diadopsi dari novel berjudul serupa karya Ratih Kumala (2012), series Gadis Kretek berhasil menarik hingga 1,6 juta penonton di Netflix sejak 6 hingga 12 November 2023.

Series yang tayang lima episode ini dimainkan oleh sejumlah aktor kondang Tanah Air seperti Dian Sastro sebagai Dasiyah atau yang akrab dipanggil Jeng Yah, Ario Bayu sebagai Soeraja, Rukman Rosadi sebagai Idrus ayah Dasiyah, dan beberapa aktor pendukung lainnya. Cerita dalam series ini berlatar belakang tahun 1960-an, di mana usaha rokok rumahan sedang menjamur.

Jeng Yah yang lahir dan tumbuh dari keluarga pemilik pabrik rokok Merdeka, turut terlibat dalam kegiatan produksi rokok kretek. Ayahnya, Idrus, bahkan mempercayainya sebagai mandor produksi. Namun begitu, karena Jeng Yang adalah seorang perempuan, ada satu pantangan yang haram dilanggar olehnya. Ia tidak diperbolehkan memasuki ruang saus dan meracik saus kretek.

Menurut kepercayaan di masa itu, saus kretek tak boleh disentuh oleh perempuan, karena bisa merusak kenikmatan rasa. Tapi, pantangan dan kerasnya sikap pak Dibyo sebagai peracik saus di perusahaannya, tak lantas membuat Jeng Yah patah arang. Keinginannya justru menggebu dan menghalalkan segala cara untuk bisa masuk ke ruang saus yang ditunjukkan dalam film dengan bangunan berpintu biru.

Mimpinya hanya satu, yakni mercaik saus kreteknya sendiri. Sejumlah usaha dilakukan Jeng Yah untuk melewati pintu biru itu, namun selalu gagal. Hingga tokoh Soeraja datang, dan membantu mewujudkan mimpi Jeng Yah.

Sosok Jeng Yah yang sejak awal digambarkan sebagai wanita yang memiliki karakter pendiam dan dingin. Memasuki menit ke 46 pada episode pertama disaat Soeraja dan Jeng Yah sedang membahas pasokan bahan kretek yang berkualitas. Pada momen tersebut Jeng Yah menampakkan senyumnya kepada Soeraja.

Sejak saat itu, keduanya mulai memiliki ketertarikan satu sama lain. Perasaan itu semakin kuat saat Soeraja mengetahui dan menyatakan diri akan mendukung mimpi Jeng Yah untuk dapat meracik saus ciptaanya sendiri. Pada episode ke dua Soeraja menunjukkan keseriusannya mendukung Jeng Yah mewujudkan mimpinya dengan memberikan kunci ruang biru sebagai tempat meracik saus. Berkat jerih payahnya dan dukungan dari Soeraja, Jeng Yah berhasil menciptakan saus racikannya sendiri yang kemudian diberi nama Kretek Gadis.

Akan tetapi, tidak lama kemudian, Idrus (Ayah Jeng Yah) dituduh sebagai anggota komunis oleh Soedjagad, lawannya dalam pertarungan bisnis yang dimainkan oleh Verdi Solaiman. Kondisi tersebut berdampak besar pada keluarga dan pabrik Rokok Merdeka milik keluarga Jeng Yah.

Malam itu, Jeng Yah harus berpisah dengan Soeraja dan menjadi tawanan tentara. Di tengah chaos-nya keluarga Idrus, Djagad memanfaatkan situasi untuk memperalat Soeraja yang saat itu masih berstatus orang dalam daftar pencarian. Soedjagad memberikan penawaran kepada Soeraja agar bisa menyelamatkan Jeng Yah dengan syarat harus menyerahkan resep Kretek Gadis padanya.

Semenjak kejadian di malam yang memporak-porandakan keluarga, pabrik, dan tragedi yang merenggut kekasihnya itu, Jeng Yah terus berupaya untuk mencari cara menemukan Soeraja dan keluarganya. Akan tetapi, usahanya banyak menemui batuan terjal yang membuatnya sulit kembali pada keluarga dan pujaan hati.

Hingga akhirnya, ia menemui sang kekasih telah menikah dengan teman masa kecilnya sekaligus anak dari pesaing ayahnya. Jeng Yah seperti kehilangan hidupnya, semua miliknya hancur. Perusahaan, keluarga, cinta, tak lagi ia genggam.

Akan tetapi dalam kesakitannya itu, Jeng Yah tinggal melanjutkan hidup yang digariskan untuknya. Tetap dengan mimpi yang sama, menciptakan saus kretek terenak dan olehnya sendiri. Meskipun, ia harus hidup dalam pelarian sebagai ex-tapol.

Dilematis Perempuan dalam Mimpi dan Pekerjaan

Apa yang terjadi pada Jeng Yah di awal cerita saat mimpinya mendapat penolakan dari lingkungannya, mungkin masih menjadi problematika hingga hari ini. Meskipun, konteks yang berjalan berbeda.

Keterbatasan peran wanita dalam dunia usaha memperlihatkan bagaimana stigma dan budaya selalu berlaku hitung-hitungan dengan jenis kelamin. Bahkan terjadinya revolusi industri tak mampu menampik mindset yang berkembang terkait jauhnya derajat laki-laki dan perempuan dalam pengambilan peran kemajuan zaman.

Revolusi industri memang berhasil membawa para perempuan memasuki pabrik dan dunia usaha, tapi tak pernah sekaligus membawanya ke dalam ruang intelektualitasnya.

Perempuan diperkejakan karena rela digaji rendah dan cenderung tak banyak melakukan protes. Selebihnya, perempuan dianggap tak mampu menggunakan kemampuannya untuk melakukan inovasi dan kemajuan.

Fakta itu juga masih terlihat hingga hari ini, ketika banyak perusahaan mengumandangkan bahwa para perempuan sudah berada di posisi strategis.

Dilansir dari Kompas.id, tercatat sebanyak 52,7 persen partisipasi perempuan Indonesia yang mampu memasuki dunia kerja. Namun, dari angka tersebut hanya 34,65 persen yang tercatat sebagai pegawai formal. Sedangkan 65,35 persen diantaranya sebagai pekerja informal, seperti ditempatkan sales atau teller di beberapa bank. Mereka menempatkan perempuan pada bagian-bagian strategis tersebut karena dinilai bisa menjadi magnet bagi calon konsumen atau nasabah.

Perempuan masih sering dijadikan sebagai ujung tombak untuk memuluskan strategi bisnisnya semata. Sayangnya, fenomena ini membuka kemungkinan terjadinya kasus eksploitasi seksual pada perempuan di dunia kerja. Menurut data dari Komnas Perempuan, tahun 2023 ini setidaknya telah terjadi kekerasan seksual pada perempuan sebanyak 1.127 kasus kekerasan di ranah publik yang salah satunya di dunia kerja.

Fakta tersebut seharusnya tidak masuk dalam cita-cita revolusi industri bukan?

Walau bagaimanapun, fakta yang ada memang menjadi PR bersama untuk memajukan perempuan tidak hanya mampu tampil, tapi bisa menjadi pelopor untuk kemajuan. Salah satunya dengan memberikan akses dan dukungan untuk para perempuan mewujudkan mimpinya dan tidak sekedar menghasilkan rupiah semata.

Bukan untuk mendahului atau melebihi laki-laki, tetapi sudah selayaknya setiap individu memiliki hak yang sama untuk menumbuhkan dirinya dan meningkatkan kualitas hidupnya.

Melalui series Gadis Kretek, kita bisa melihat dan menjadikannya pengingat tentang bagaimana perjuangan dan berproses itu selalu berdialektika dengan hidup. Tidak mengenal masa dan keterbatasan.

Sosok Jeng Yah sebagai wanita yang tangguh dan gigih, menunjukkan betapa tekad yang besar mampu membawa kita pada mimpi-mimpi yang telah kita bangun. Bukan hanya sebatas mimpi yang tercapai, tetapi juga kualitas diri dan kematangan karakter yang memberikan makna pada setiap langkah dan proses yang diambil.

Oleh : Zaqia Ulfa, Pemimpin Umum LPM IDEA Walisongo Semarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.