Salah satu hobi Gus Dur adalah gemar berkeliling ke pesantren-pesantren, baik dalam rangka di diundang ceramah atau pun sekedar bersilaturahim. Dalam salah satu ceramahnya, Gus Dur selain mengutip dari sumber ajaran Islam dan ragam keilmuan dari khazanah Islam, juga mengutip artikel di koran atau majalah dan juga mengenalkan istilah-istilah sosial yang mungkin kurang akrab dengan masyarakat pesantren waktu itu.

Seperti ceramah beliau di salah satu pesantren sebagaimana terekam oleh video yang beredar di kanal Youtube dan laman Fecebook, Gus Dur mengutip tulisan Sahrir di Majalah Gata yang mengatakan bahwa di Indonesia ini tidak ditemukan pemimpin, yang ada hanya penguasa. Analisis politik semacam ini oleh Gus Dur dikomonikasikan dengan masyarakat di pengajian peringatan Maulud Nabi Muhammad SAW. Kata Gus Dur, memperingati Maulud itu bisa dari beberapa sisi. Bisa dari sisi keadilan pemimpin sebagaimana dijelaskan Gus Dur di atas, atau bisa dari yang lain seperti keahlian, pengetahuan dan teknologi.

Memandang peringatan Maulud dari sisi keahlian, Gus Dur mengutip hadis Nabi, yang artinya kira-kira, “ketika suatu perkara dipasrahkan kepada selain ahlinya, maka tunggulah kehancurannya”. Dari hadis ini pula Gus Dur kemudian membahas tentang pentingnya profesionalisme. Namun bukan Gus Dur, kalau berpidato — walaupun tema serius — tidak menyelipkan joke.

Gus Dur pun bercerita, ada seorang pencopet di sebuah terminal tertangkap. Tak disangka pencopet ini punya kartu anggota Nahdlatul Ulama (NU). Yang menangkap pun bertanya, “Anda kan NU, kok mencopet?”

“NU itu kan agama, sedangkan copet adalah profesi” kata Gus Dur menirukan jawaban pencopet dalam ceritanya.

“Agama dipisah dengan profesi ya begitu jadinya” komentar Gus Dur diiringi tawa.

Sedangkan dari sisi ilmu pengetahuan, Gus Dur mengutip hadis Nabi tentang perintah mencari ilmu walaupun sampai ke negeri Cina. Oleh Gus Dur lalu diberi penjelas yang intinya menghilangkan dikotomi ilmu agama dan umum atau teknologi.

Selain beberapa sisi yang telah disebutkan, Gus Dur mengatakan ada juga yang melihat peringatan Maulud dari sisi susunan masyarakat. Istilah susunan masyarakat ini oleh Gus Dur juga disebut padanananannya dalam bahasa “ilmiah” yakni struktur sosial. Menjelaskan sisi ini, Gus Dur mengutip surat at-Takatsur dan hadis Nabi tentang manusia yang paling baik adalah yang paling bermanfaat.

Anda pendidik? Apakah sudah berlaku sabar dan jenaka?

Catatan:

*Analisis Sahrir di atas oleh Gus Dur juga dikembangkan menjadi artikel utuh berjudul “Berkuasa dan Harus Memimpin” yang terdokumentasikan di buku Islamku Islam Anda Islam Kita.

*Perihal cerita Gus Dur tentang penyebutan NU sebagai agama, bisa merujuk ke buku Agama NU untuk NKRI karya Ahmad Baso

Zaim Ahya, Pare 25 Desember 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.