Tepat satu minggu kemarin saya mengatamkan novel bumi manusia karya Pramudya Ananta Toer. Ada beberapa kalimat yang yang paling penulis ingat: (1) seorang pelajar harus adil sejak dalam pikiran, (2) cinta tidak datang mendadak, cinta lahir dari budaya, tidak seperti batu jatuh dari langit, (3) Annelis yang tak menoleh saat meninggalkan rumah ke Belanda, dan (4) kita telah berjuang dengan sebaik-baiknya dan sehormat-hormatnya.

Kalimat yang pertama, sebelum saya membaca novel tersebut, sering dikutip beberapa teman. Sampai-sampai penulis mengira itulah inti dari novel Bumi Manusia. Kalimat tersebut terasa indah dan menggetarkan sanubari. Mungkin karena muatannya terlalu indah, dalam berbagai diskusi, mereka sering mengutipnya, seakan selalu relevan. Penulis pun hanya memperhatikan, tanpa mengiyakan atau menolak. Alasannya, Penulis belum membaca novel Bumi Manusia waktu itu.

Kemarin, awal membaca, penulis menanti-nanti, di mana letak kalimat indah itu. Tak disangka, ternyata kalimat itu justru tidak diungkapkan oleh tokoh utama dalam seri pertama dari novel Tetralogi Pulau Buru: Minke, tapi diucapakan oleh Jean Marais, seorang pelukis asal Prancis, yang juga menjadi teman dekat Minke. Tentu kalimat indah itu ditujukan untuk Minke. Menasehati Minke.

“Sebagai pelajar, kamu harus sudah adil sejak dalam pikiran, Minke!”

kata Jean kepada Minke. Maksud dari kalimat itu, agar Minke tidak hanya ikut-ikutan pandangan masyarakat umum, yang dia sendiri belum tau faktanya. Waktu itu, Minke baru bertemu dengan Nyai Ontosoroh. Pandangan umum menganggap moyoritas Nyai—termasuk Nyai Ontosoroh—termasuk wanita rendah. Ternyata benar, pandangan umum terbukti salah. Nyai Ontosoroh adalah sosok wanita yang pandai, tangguh dan tak mau menyerah pada nasib.

Kalimat yang kedua, juga keluar dari mulud Jean Marais. Kalimat ini juga ditujukan untuk Minke, saat dia bingung tentang perasaannya—dan perasaan Annelis kepadanya—kepada Annelis. kalimat kedua ini tentang cinta, penulis tak bisa berkomentar panjang. Entah, bisa jadi ungkapan itu benar, cinta tidak datang secara langsung, tapi ada prosesnya. Atau bisa jadi tidak selalu demikian halnya.

Yang ketiga juga tentang cinta. Bukan tentang cinta an sich. Tapi lebih tantang perempuan. Juga bukan burupa kata-kata atau kalimat, tapi sikap seorang perempuan yang patah hati. Annelis adalah istri Minke. Dia sangat mencintai Minke, tak mau berpisah, bahkan dalam mimpi sekalipun. Dia selalu sakit jika jauh dari Minke. Namun pada akhirnya, hal yang tak sudi dimimpikan Annelis terjadi: dia harus berpisah dengan Minke dan Ibunya. Annelis sakit berhari-hari, pingsan tak sadarkan diri, sedangkan Minke dan Nyai Ontosoroh berusaha sekuat yang mereka bisa, supaya Annelis bisa tinggal. Tapi, perlawanan kalah. Annelis pun harus pergi. Dan yang paling mengejutkan, Annelis tidak menolehkan kepalanya sedikit pun saat dia meninggalkan rumah. Sebelum melangkahkan kaki keluar, dia mengatakan, bahwa hari itu merupakan pertemuan terakhirnya dengan ibu dan suaminya. Penulis menyimpulkan: begitulah perempuan yang setia mencinta, sekali dia kecewa, jangankan kembali, menoleh kebelakang pun tak sudi.

Saat Annelis pergi, minke berkata pada mertuanya: “Ma, kita kalah”. Mertuanya menjawab: “Iya Nyo, tapi kita telah melawan dengan sebaik-baik dan sehormat-hormatnya”. Inilah kalimat terakhir sebagai penutup novel seri pertama Tetralogi Pulau Buru karya Pramudya Ananta Toer, dan sekaligus salah satu dari empat kalimat yang paling disukai penulis.

Sebenarnya, perlawanan yang dilakukan Minke dan Nyai Ontosoroh kecil kemungkinan akan mendapatkan kemenangan. Karena mereka melawan orang Belanda, yang dalam cerita menjajah Nusantara. Kenapa mereka tetap melawan? Karena bagi mereka, melawan adalah sebaik-baik dan sehormat-hormat laku hidup. Lalu, sudahkah kita melawan dengan sebaik-baik dan sehormat-hormatnya, seperti yang dilakukan Nyai Ontosoroh dan Minke? Tentunya dengan musuh yang berbeda.

Semarang, Januari 2016

Zaim Ahya, Founder takselesai.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.