Setelah di tulisan sebelumnya saya menyatakan, dengan merujuk kepada Imam al-Ghazali dan Kiai Nawawi Banten, tidur adalah perlawanan terakhir, saya bermaksud membincangkannya kembali.

Tidur oleh Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Bidayatul Hidayah, dijadikan sebagai bab tersendiri. Kalau membacanya, mungkin ingatan kita akan terseret ke masa kecil, saat ibu dan guru madrasah atau sekolah kanak-kanak mengajarkan doa sebelum tidur.

Memang demikian adanya, dalam bab tidur, Imam al-Ghazali menuliskan ragam doa dan apa yang perlu dipersiapkan saat kita ingin tidur. Oleh beliau tidur dimaknai sedemikian rupa yang menarik pembaca untuk ingat mati. Bagaimana tidak, beliau mengajurkan bersuci, istigfar, berniat berbuat baik saat bangun, tak mengulangi dosa, menulis wasiat dan berposisi seperti mayat diliang lahat. Beliau juga berkata, “kalau-kalau dalam tidur ini Allah mencabut ruh, kamu sudah siap”.

Imam al-Ghazali juga bekata, tidur ibarat mati, dan bangun darinya laiknya kebangkitan dari kubur kelak. Beliau menyarankan, saat kita bangun dari tidur untuk memuji Allah: Alhamdulillahilladzi ahyana…

Namun perihal tidur, Imam al-Ghazali menghimbau, jangan sampai dalam sehari semalam, tidur kita melebihi 8 jam. Kalau dihitung, sehari semalam yang berjumlah 24 jam dikurang 8 jam dan mengandaikan umur kita sampai 60 tahun, maka 20 tahun dari usia kita digunakan untuk tidur.

Maka sepantasnya, dalam menjalankan aktivitas pagi sampai sore kita, selain tidur qoilulah, tidur adalah alternatif terakhir, atau perlawanan terkahir dari maksiat!

Zaim Ahya, Plumbon 9 Mei 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.