Kalimat di atas sering penulis dengar di lingkungan pesantren, dan mungkin juga Anda?

“Alfiyah itu tingkatannya musonnif (penulis/pengarang)” begitu kira-kira kata beberapa santri atau guru di pesantren.

Mungkin memang demikian adanya. Alfiyah, umumnya di pesantren, diajarkan setelah santri mempelajari kitab-kitab nahwu seperti Jurumiyah dan Amriti.

Alfiyah memang berbeda dengan dua kitab sebelumnya. Banyak memuat ragam pendapat dan ragam bentuk susunan. Contoh kecil, misalnya khobarnya كان واخواتها yang dengan syarat-syarat tertentu bisa berada di tengah-tengah antara كان dan isimnya.

Alfiyah yang memuat ragam pendapat ini menguatkan bahwa kitab ini, tidak hanya sekedar untuk membaca teks tapi juga menulis. Dengan ragam variasi bentuk susunan dimuat di dalamnya, memberikan banyak pilihan bagi penulis untuk mengeksplorasi.

Sebagaimana pengalaman penulis belajar bahasa Inggris di Kampung Inggris Pare Kediri, di kelas grammar lanjut yang memang diperuntukkan untuk menulis, dijelaskan bahwa pilihan veriasi dalam tulisan menunjukkan level dari pada penulis itu sendiri. Dalam bahasa Indonesia juga demikian adanya, bukan? Banyak kita temui susuan yang “aneh” namun terasa indah dan tak melanggar aturan tata bahasa!

Kalau menggunakan kriteria tingkatan grammar dalam bahasa Inggris, kitab Alfiyah masuk dalam katagori advance. Bukan lagi beginner atau pemula. Sebagaimana kita ketahui, untuk pemula biasanya yang diajarkan adalah tata bahasa yang umum, dan belum pada tahap variasi.

Tentang “maqom” Aliyah ini, penulis pernah berbincang-bincang dengan penyair muda dan senior penulis saat nyantri di Alfadllu Kaliwungu, Usman Arrumy yang sekarang tinggal di Mesir, yang mengalihbahasakan dua buku puisi. Yang pertama kumpulan puisi karya Nizar Qobbani yang ia terjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul “Surat dari Bawah Air”. Sedangkan yang ke dua adalah karya Sapardi Joko Damono yang berjudul “Dukamu Abadi”, ia terjemahkan menjadi “همك دائم”.

Katanya, dalam proses ia menerjemah, ia terbantu dengan Alfiyah.

“Kalau menerjemah, ada pengaruhnya. Alfiyah dan Maknun. Bahkan penting memakai keduanya. Terutama menerjemahkan syair. Kalau kitab kuning, Amriti sudah cukup dan sering baca” demikian Usman menjelaskan.

Lalu kenapa, ini juga terjadi kepada penulis dan mungkin beberapa santri lain, alih-alih menulis kitab atau artikel, merangkai kalimat dalam bahasa Arab yang tak terlalu panjang kadang masih kesulitan?

Jebolan pesantren memang banyak yang menulis karya dalam bahasa Arab, tidak hanya di era jaman dulu, tapi sampai sekarang, sebut saja, termasuk yang termuda, Kiai Afifuddin Dimyati dari Jombang. Namun pertanyaannya, kenapa kemampuan itu tidak merata?

Mungkin, dan ini perlu didiskusikan lagi, salah satu sebabnya adalah beberapa santri yang menghafal tidak dibarengi dengan pemahaman yang mendalam. Atau bisa jadi, sebab yang lain, lantaran tidak terbiasa berlatih menulis kalimat panjang dalam bahasa Arab. Sehingga, walaupun seorang santri hafal dan paham mendalam Alfiyah, tapi karena tak biasa, ia canggung dalam menerapkan “jurus-jurus” Alfiyah yang telah ia kuasai.

Pengalaman penulis dalam belajar menulis seperti artikel dan kolom, merasa kesusahan ketika masih awal belajar. Jangankan menulis artikel untuh, kadang membuat satu kalimat saja bisa memakan waktu cukup lama. Mungkin Anda juga pernah merasakan?

Namun dengan berjalannya waktu, dengan terus latihan, semua berubah. Dengan pembiasaan menulis dan membaca karya-karya penulis hebat, penulis juga mempelajari banyak variasi dalam penyusunan kata. Sebut saja misalnya penggunaan tanda Dash atau dua koma Apossitive sebagai cara menjelaskan sesuatu.

Problem pasca santri belajar Alfiyah, selain hal di atas, adalah sedikit demi sedikit teori yang termuat, bahkan juga nazam yang telah dihafal perlahan pudar dari pikiran.

Dalam rangka menghilangkan atau minimal mengurangi kecanggungan santri menulis dalam teks Arab dan menjaga hafalan nazam sekaligus pemahaman atas Alfiyah, mungkin selain menjelaskan isi kitab karya Ibnu Malik itu, santri-santri juga digembleng untuk latihan menulis dengan bekal “jurus-jurus” yang telah dikuasainya. Mungkin Anda juga sependapat dengan saya?

Zaim Ahya, Limpung 19 Januari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.