Bagi mereka yang tahun 90-an mengenyam pendiddikan di sekolah dasar kemungkinan besar akrab dengan serial Ultraman Tiga. Penulis sendiri punya kenangan, dulu setiap pagi di hari Minggu, menonton bersama teman-teman sebaya, baik di rumah penulis atau pun di rumah salah satu teman. Memang begitu adanya, dulu sebelum setiap rumah punya TV dan smartphone belum lahir, serial seperti Ultraman Tiga menyatukan kami.

Ultraman Tiga menandai era baru serial ultrraman. Selain dengan visual yang lebih baik dari serial-serial ultraman sebelumnya, ada hal yang sampai sekarang membekas penulis, yakni persoalan arti menjadi manusia dan takdir sebagai seorang ultraman.

Dari awal, Daigo Mandoka yang terpilih menjadi Ultraman Tiga, alih-alih berbangga atau bersemangat menjadi seorang kesatria, justru mengalami sebuah keraguan. Bahkan ia pun sampai membuang alat yang digukannya untuk berubah wujud.

Namun, ternyata ia tak bisa menolak takdirnya. Ia pun menjadi Ultraman Tiga, melindungi rekan-rekannya, penduduk bumi dari serangan moster-moster jahat.

Apakah keraguannya hilang? Ternyata tidak! Di episode akhir, pasca ia mengalahkan musuh, ia memilih menjadi manusia biasa.

“Aku yakin kelak manusia akan bisa melindungi diri mereka sendiri” begitu kira-kira jawab Daigo saat ditanya oleh kekasihnya, Rena dan rekan-rekannya.

Tak disangka, ternyata bumi dan penduduknya terancam kembali, Daigo pun akhinya terpaksa menjadi ultraman lagi bertarung, setelah memantapkan hati akan jalan perjuannya.

Pasca pertarungan terakhir, Daigo benar-benar meninggalkan jalan kepahlawanan jalur ultraman, dan memilih jalan kepahlawanan yang lain. Daigo bersama kekasihnya menuju planet Mars dan memilih menanam tetumbuhan di sana, untuk masa depan manusia.

Dari jalan kepahlawanan yang besar lagi populer, Daigo memilih jalan kepahlawan yang sunyi: berkebun dan menjadi petani!

Catatan:

Foto Daigo (putih) dan Asuka (merah) di kebun milik Daigo di Mars. Asuka adalah Ultraman Dyna, super hero setelah Ultraman Tiga. Asuka juga mengalami keraguan. Ia sempat bertanya pada Daigo di akhir episode, namun kata Daigo, yang bisa menjawab adalah Asuka sendiri.

Tidak seperti seniornya, Asuka memilih jalan kepahlawanan dengan tetap menjadi Ultraman.

Apakah manusia bisa memilih jalan pengabdiannya? Atau hanya menjalani apa yang telah digariskan atasnya?

Zaim Ahya, Founder takselesai.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.