Sebagai negeri yang pernah menjajah Nusantara, Jepang sukses membuat kita melupakan kejahatan masa lalu kepada generasi muda negara jajahannya. Salah satu hal yang membuat kami (generasi muda) tanpa sadar melenyapkan sakit hati atas kebiadaban masa lalu Jepang adalah keberadaan anime.

Menonton anime adalah hobi yang belum pudar bagi saya, sedari masih SD sampai sekarang. Walau anak saya sudah lahir, tak ada sedikitpun rasa ingin meninggalkan hobi, yang bagi sebagian orang terkesan kekanakan ini.

Walau selalu identik dengan anak kecil, anime menjadi pembentuk karakter generasi 90-an. Tentu saja hal ini tak akan dirasakan oleh mereka yang tak menyukai anime. Sehingga terkadang menjelaskan asyiknya anime kepada mereka adalah semacam memberikan lelucon.

Terkadang saya juga kasihan apabila bersua dengna kawan satu generasi yang belum bisa membedakan antara anime dengan kartun, hehe. Mamam, tuh! Menganggap anime sebagai konsumsi anak-anak adalah paradigma naif. Bagi mereka, anime hanya dianggap hiburan dan tontonan saja.

Di Amerika Serikat keberadaan kartun memang dibuat untuk sekadar hiburan, contohnya Mickey Mouse, Tom And Jerry, Scobedoo, Casper, dan lainnya. Mereka menekankan gerak dan tehnik menggambar karakter, bukan jalan cerita. Jarang sekali dalam sebuah kartun orang bisa mengerti mengenai satu cabang ilmu. Apalagi filsafat. Kartun lebih mengedepankan humor, mimik wajah yang ekspresif, dan memanjakan mata. Sehingga lama kelamaan kartun hanya diperuntukkan untuk anak anak.

Berbeda dengan Anime, ia lebih menekankan alur cerita. Mementingkan plot, tekhnik menggambar bahkan mengandalkan efek-efek tertentu. Sehingga ia berusaha membenamkan semacam ajaran di dalamnya.

Contoh kalau ingin memberikan ajaran filsafat bermain sepak bola, Jepang membuat anime Captain Tsubasa. Sementara ketika Jepang ingin membenamkan sejarah feodal di masa lalu, mereka membuat Anime Samurai X. Ada lagi, saat mereka ingin memperkenalkan kembali mitologi, Jepang membuat anime Inuyasa, Naruto, dan lainnya. Singkat cerita, Anime adalah semacam ilmu pengetahuan yang ingin disampaikan orang-orang Jepang melalui gambar bergerak.

Bagaimana tidak, anime turut andil besar bagi generasi 90-an untuk mengenal persahabatan yang baik, sifat pantang menyerah, kejujuran, impian, pengetahuan sains adalah dari Anime.

Ya, sejak kecil Anime menjadi teman baik kami. Libur Minggu adalah waktu paling ceria yang bisa diingat sampai sekarang. Di kala pagi datang, ibu menyiapkan sarapan lalu soundtrack opening Cibi Maruko Chan membangunkan tidur. Bibir pun tersenyum dan hati berbunga bunga.

“Hal yang menyenangkan hati banyak sekali bahkan kalau kita bermimpi. Sekarang ganti baju agar menarik hati ayo kita mencari temaaan” begitu kira-kira penggalan liriknya.

Anime minggu tersebut sedikit banyak membentuk karakter kami. Setelah penat seminggu sekolah, dengan seabrek kurikulum pendidikan yang menjemukan. Waktu bersantai otak kami adalah hari minggu bersama karakter-karakter anime. Secara tidak langsung disanalah proses pembelajaran karakter masuk. Sorry, loh, bukan bermaksud mengesampingkan kawan-kawan yang liburnya hari Jumat. Hehehe.

Secara ilmiah, anak kecil selalu meniru apa yang ia lihat. Berbeda dengan anime, pembelajaran di sekolah lebih sulit diterima. Lebih banyak teori, minim aplikasi. Sedang di anime, praktik-praktik berteman dan bermasyarakat ditunjukkan secara gamblang.

Selain hari minggu, dulu Anime di Indonesia juga tayang tiap hari. Saya ingat betul saat siang sebelum berangkat Madrasah Diniyah nonton P Man. Di sore hari nonton Inuyasa, setelah magrib pasti nonton Yuyu Hakuso, Shaman King, Hunter X Hunter, Tsubasa, samurai X, Pak Guru Nube, sampai Hachi anak sebatang kara. Ahhh masa masa itu.

Ajaran Tersembunyi Multidimensi Kehidupan

Hampir semua profesi, budaya, sampai cabang olah raga ide utama alur anime. Sebut saja penggemar sepak bola, pasti akan tergerak semangatnya ketika nonton Captain Tsubasa dengan taglinenya “Menjadikan bola sebagai teman”. Atau menjadi pemain basket yang garang dan konyol di Slam Dunk.

Ada juga yang ingin berlari kencang di cabang olah raga American Football seperti Eye Shield 21. Atau mengajarkan anak menyayangi dan memelihara hewan lewat Pokemon dan Digimon. Bahkan untuk urusan otak-atik mesin, banyak yang termotivasi dari anime Tamiya, Beyblade, Crush Gear. Sementara untuk belajar strategi lewat permainan kartu Yugi-Oh, belajar politik dunia lewat Gundam, dan banyak lagi.

Lain lagi dengan Dragon Ball, ia mengajarkan sebagai manusia harus mencintai sesama manusia dan alam. Saya ingat betul ketika salah satu musuh Goku ingin menghancurkan bumi gara gara manusia adalah spesies yang saling berperang. Sebuah tamparan bagi kami umat manusia. Menurut saya hal-hal semacam Itu bukanlah pendidikan anak kecil, tetapi sebuah falsafah hidup.

Bahkan ajaran ideologi sosialis juga disisipkan di Anime. Misal diperlihatkan di serial One Piece. Disana digambarkan tiap daerah selalu dikuasai oleh diktator. Luffy, sang tokoh utama, selalu digambarkan menumbangkan penguasa yang otoriter. Anime ini mengajarkan untuk mengutamakan kesejahteraan bersama, bahkan dengan menentang pemerintah yang tiran dan otoriter sekalipun.

Adegan yang paling dewasa dalam anime One Piece yang pernah saya tonton adalah episode ketika Enies Loby ketika Ushop membakar bendera pemerintah dunia. Itu adalah pendidikan keberanian dan perlawanan. Simbol penentangan. Jadi tidak bisa dipandang hanya sebagai tontonan anak.

Saat beranjak remaja Anime yang paling berpengaruh dalam kehidupan saya adalah Naruto. Anime bertema ninja ini mengajarkan bagaimana menjadi remaja sekolahan yang baik walau bandel, Naruto memiliki mimpi besar. Naruto hadir sebagai seorang anak yang tak memiliki bakat, tetapi punya keistimewaan bawaan. Dia mengajarkan arti berusaha, bergaul dengan teman, setia kawan, sampai kenakalan yang wajar.

Dari sana saya jadi tahu, seorang murid suatu saat akan menjadi guru dan memiliki murid sendiri. Entah itu kau begundal atau orang terkutuk, suatu saat pasti menemukan orang yang harus dididik. Dari sana juga saya belajar tentang kehidupan, bahwa orang yang saat ini sukses atau berwibawa, masa lalunya belum tentu. Begitupun sebaliknya, orang yang kelihatan rajin dan hebat saat sekolah belum tentu di masa depan akan beruntung. Sebuah pembelajaran nyata yang kualami sendiri. Semua itu saya temukan jauh di anime.

Membaca Menggunakan Kacamata Anime

Sampai sekarang pun saya masih melihat masyarakat nyata dengan kaca mata Anime. Anime yang saat ini menurutku paling relevan dengan kehidupanku adalah One Piece. Di sana si tokoh utama, Luffy adalah seorang bajak laut muda. Mengarungi lautan dengan teman temannya. Tak mudah menjadi bajak laut pemula yang harus bersaing dengan senior senior yang kuat.

Ia berusaha berusaha sedikit demi sedikit memperoleh pengalaman dan ingin menjadi raja Bajak Laut. Dalam One Piece diajarkan, sebagai bajak laut muda ada dua cara untuk bertahan hidup di lautan yang keras. Pertama, dengan menginduk pada bajak laut senior yang punya kekuatan. Kedua, membentuk aliansi dengan sesama teman muda untuk melawan orang orang tua.

Begitu juga dengan saya di dunia nyata. Sebagai pemuda di masyarakat yang bagaikan lautan ini. Ajaran Anime One Piece tadi sangat terbukti. Saya yang kebetulan pernah anak lulusan kuliahan baru, benar benar menyaksikan hal yang ada di One Piece. Setelah lulus, kawan-kawan dengan sendirinya terbagi menjadi dua kelompok tadi.

Ada sebagian kawan yang menginduk kepada orang-orang berpengaruh, misal ke anggota dewan, dinas, perusahaan sampai kembali ke kampus menginduk dosen. Ada juga yang beraliansi dengan temannya membentuk bisnis melawan senior-senior dan mengajak temannya bekerja sama.

Benar saja teman saya yang memilih usaha sendiri memang jalannya lebih susah. Walaupun di sisi lain ada juga kawan yang mampu menyaingi senior-seniornya. Dan itu nyata. Sehingga menurutku pembuatan anime ini tidak main-main. Ia berasal dari riset panjang kehidupan nyata.

Tapi sayang sekali belum ada seniman hebat yang mampu menembus dinding itu. Semua mustahil terwujud apabila keadaan seperti ini. Bagaimana tidak, sekarang anime semakin dibatasi. Tahu sendirilah seberapa ketat sensor yang diberlakukan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) akhir-akhir ini. Meskipun di saat yang sama sensor itu terkesan naif.

Hasilnya, anime yang tayang pun hanya anime yang khusus untuk konsumsi anak anak. Tak ada lagi pendidikan orang dewasa di dalamnya. Ditambah industri ini tidak populer di Indonesia. Tidak usah jauh-jauh ngomong anime, komik saja banyak yang enggan membelinya sekarang.

Padahal secara tidak langsung Anime mengirimkan pesan tersembunyi yang membentuk pola pikir. Mulai dari memperkenalkan rumah khas Jepang seperti di serial Doraemon, pola hidup orang Jepang yang suka kebersihan, budaya mereka seperti samurai, ninja, kimono dan Bushido (falsafah hidup Samurai).

Apabila itu diterapkan untuk budaya dan falsafah Nusantara tentu akan menjadi pendidikan peradaban bagi generesi selanjutnya. Tetapi apa yang terjadi sekarang sulit dilawan.

Bagi bangsa yang kecanduan moral, pelarangan anime hanya berdasar pada pelarangan pornografi dan kekerasan. Padahal pembuatannya sama sekali tidak ditujukan untuk itu. Bagai membunuh tikus yang bersarang di lumbung padi dengan cara membakar lumbungnya. Pembatasan anime dengan cara melarang tayang adalah bentuk penghalangan ajaran baik yang terkandung di dalamnya. Membunuh tikus bisa diracun, tidak harus dibakar lumbungnya. Membatasi Pornografi dan adegan kekerasan tak perlu melarang penayangan.

Anak-anak era sekarang dicekoki “Hidup Hedon”, hidup bersenang senang. Kalau dulu di hari minggu kau jarang menemukan anak-anak di teras rumah, karena mereka di dalam rumah nonton Anime. Saat ini tidak usah hari minggu, bahkan setiap hari anak anak lebih memilih bermain game di teras rumah. Mereka lebih menikmati kemudahan akses teknologi, ketimbang belajar falsafah.

Padahal dalam anime Jepang, selalu menanamkan ajaran ajaran Bushido ala Samurai yang bisa membuatnya besar seperti sekarang. Bahkan Tentara Pembela Tanah Air (Peta) yang gagah berani menghalau serangan agresi militer Belanda I dan II, banyak yang berlatar belakang didikan Bushido Jepang.

Walau dikenal kejam saat menjajah, kita tidak bisa memungkiri, bahwa falsafah Jepanglah yang mendasari kuatnya militer Indonesia pasca merdeka. Mereka (tentara Peta) saat ini menjadi pasukan yang menakutkan dan tersohor dengan latihan beratnya, yang sekarang kita sebut (Komando Pasukan Khusus) Kopassus. Itu di dunia nyata, di dunia remaja kami belajar Bushido ya dari Anime.

Belakangan kegelisahan saya ada di pembatasan penayangan anime. Indonesia kecanduan moral, sehingga membuat anak-anaknya hanya tahu yang baik adalah “orang lurus”. Kamu yang sering nonton kartun Spongebob pasti pernah melihat episode ketika Spongebob menjadi begitu lurus, kerja kantoran, giginya rapi, badannya licin tidak punya lubang, dan hanya seharian di belakang komputer. Sangat membosankan, dibanding Spongebob yang ceria, bekerja di Crusty Crab, bermain dengan Patrick. “Menjadi normal sangat membosankan” begitu kira kira pesannya.

Anak anak dibatasi anime hanya gara-gara menampilkan kekerasan, simbol seksualitas, atau kata kata kotor (kata-kata berani). Salah satu kasus yang paling lucu adalah dilarangnya anime Naruto hanya gara-gara menampilkan kekerasan. Aku pun terpingkal, membayangkan bagaimana anak anak membuat rasengan lalu melemparkannya ke perut temannya. Mereka terlalu takut anak-anak menirunya. Dahulu saya ingat betul semua anime menayangkan adegan pertarungan, dan tidak ada satupun anak-anak terbunuh hanya gara-gara saya “kame kame“.

Pembatasan berlebihan ada juga di anime terbaik macam One Piece. Ia dinilai mengandung unsur seksualitas karena karakternya menunjukkan bagian dada wanita yang menonjol dan panggul yang indah.

Selain itu One Piece juga dinilai mengajarkan anak-anak menjadi penjahat, karena tokoh utamanya adalah Bajak Laut. Sungguh lelucon yang membuat selera humorku terbang melayang. Padahal karakter yang digambar di One Piece menunjukkan kemajemukan manusia yang ada di bumi.

Ada Negara Alabasta yang penduduknya seperti orang orang Arab, ada Negara Dressrosa yang penduduknya seperti masyarakat di Italy, ada Water seven yang masyarakatnya seperti warga kota Venesia dan banyak lagi. Semua mengajarkan perbendaharaan jenis ras manusia dan karakternya. Sangat rugi jika remaja tak tahu itu.

Itulah kenapa saya menyebut, pembelajaran karakter utama saya sebagai generasi 90-an adalah Anime. Karena dari sana saya melihat berbagai macam jenis manusia, berbagai kehidupan, dan tentunya pola pikir.

Tidak seperti tayangan tayangan yang diperbanyak saat ini, misal infotainment, sinetron azab, drama artis, acara paranormal. Kemarin saya mencoba menonton TV saat hari minggu, saya masih menemukan beberapa anime macam Doraemon. Tetapi selebihnya adalah Kartun, bukan Anime.

Tau yaa Kartun itu untuk hiburan semata minim ajaran filsafat, kecuali Spongebob, hehehe. Tetapi di hari biasa sungguh luar biasa yang ditayangkan, esok, pagi, sore, malam, Infotainment tiada henti, pagi sampai sore sinetron agama dan sinetron azab tak ada putusnya, malam acara joget-joget. Tiap hari dijejali gosip, gosip, dan gosip. Sudah sangat jelas apabila saat ini kita mudah sekali goyah dimakan berita berita hoax yang mengatasnamakan moral.

Keteguhan hati generasi penerus akan mudah digoyahkan oleh serangan moral moral murahan buatan proposal. Pandangan pandangan politik akan semakin diacuhkan para remaja. Akhirnya sang penguasa moral akan mudah menggerakkannya. Sehingga secara tidak langsung bangsa kita menjadi bangsa yang tak berkarakter.

Kalau sekolah adalah harapan terakhir remaja untuk belajar karakter sudah tak mampu memberi ajaran, Anime sebagai harapan alternatif justru dibatasi. Maka generasi penerus akan mencari jati diri dan karakternya lewat penguasa penguasa moral tadi di sosmed maupun kanal kanal Youtube. Munculah banyak fanatik fanatik buta yang lahir dari generasi belakangan.

TV sebagai sumber perkenalan anak kepada karakter idolanya sudah bisa ditebak ke mana arahnya. Kini orang tua tidak perlu susah-payah melarang menonton anime, karena TV sudah melakukannya. Berbahagialah mereka anak-anak yang tidak dilarang nonton anime di masa kecilnya 🙂

Faruq Fahmi Rubeka

Penikmat Anime, Tinggal di Jepara

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.