Berkunjung ke Turki, kita akan di sambut oleh menara-menara masjid yang menjulang tinggi. Terlebih, sultan-sultan Ottoman cenderung memilih untuk membangun masjid di daerah-daerah yang relatif lebih tinggi (bukit). Kondisi ini semakin membuat masjid terlihat jelas dan membentuk landscape kota Istanbul semakin memesona.

Ada tujuh bukit terkenal yang terdapat di kota Istanbul, masyarakat menyebutnya yedi tepe, seluruhnya telah “ditanam” masjid-masjid besar nan kokoh. Sebagian masjid memiliki enam menara, seperti masjid Sultan Ahmet atau yang akrab disebut Blue Mosque dan masjid Camlıca yang baru saja diresmikan oleh presiden Turki Receb Tayip Erdoğan pada 2019 lalu. Terdapat juga masjid dengan empat menara seperti masjid legendaris Suleymaniye. Sementara sisanya adalah masjid dengan dua menara seperti Masjid Eyub Sultan dan masjid yang hanya dilengkapi dengan satu menara.

Dalam masyarakat Turki, masjid biasa disebut Cami, diambil dari bahasa Arab Jami yang artinya yang mengumpulkan. Kata Cami diambil dari istilah masjid al-Jami. Istilah ini digunakan untuk menyebut masjid dengan sekala besar yang digunakan untuk salat lima waktu dan salat Jumat. Penggunaan kata Cami di Turki juga merujuk pada makna yang sama. Fungsinya untuk membedakan antara masjid besar yang digunakan untuk salat Jumat, Idul fitri dan Idul Adha, dengan masjid kecil yang hanya digunakan untuk salat lima waktu, seperti istilah masjid dan musala di Indonesia.

Selain itu, penyebutan Cami juga berkonotasi bahwa tempat tersebut tidak sebatas sebagai sarana keagamaan. Lebih dari itu, Cami juga dilengkapi dengan lembaga wakaf yang mengelola pendidikan, kesehatan (rumah sakit), jaminan sosial dan fungsi sosial kemasyarakatan yang lain. Contoh paling representatif untuk jenis masjid ini adalah Sulaimaniye Cami. Masjid yang memiliki kubah terbesar, menggalahkan rekor Hagya Sofia, ini dilengkapi dengan dar al-hadis (lembaga pendidikan agama), dar at-tib (fakultas kedokteran), dar as-sifa (klinik) dan dar ad-dziafah (ruang tamu).

Dalam tradisi Ottoman, setiap sultan berlomba-lomba untuk membangun masjidnya sendiri-sendiri. Itulah kenapa meskipun saat ini Turki dikenal dengan negara sekuler, kita bisa dengan mudah menemukan masjid dengan ukuran yang besar dan megah. Satu masjid dengan masjid yang lain memiliki karakter yang berbeda. Misalnya, masjid dengan empat menara adalah masjid yang dibangun atas perintah sultan, sementara masjid dengan dua menara adalah masjid yang dibangun dan dikelola oleh pemerintah, dan sisanya masjid dengan satu menara adalah yang dibangun oleh swadaya masyarakat. Di luar itu terdapat pula masjid dengan enam menara, tapi jumlahnya tidak banyak.

Di Turki sampai saat ini hanya ada dua masjid yang memiliki empat menara.

Pertama, Blue Mosque yang dibangun oleh sultan Ahmet, lokasinya berjejer dengan Hagiya Sopia, sebuah gereja Kristen ortodoks warisan kekaisaran Romawi Timur yang beralih fungsinya menjadi masjid setelah penaklukan Konstantinopel. Pembangunan Blue Mosque selanjutnya menggantikan fungsi Hagya Sopiya yang dipensiunkan dan diubah menjadi museum.

Kedua, masjid Camlıca yang diresmikan pada Mei 2019, dan dinobatkan sebagai masjid terbesar di Republik Turki Modern dengan luas 57.500 meter persegi yang dapat menampung 63 ribu orang.

Di bawah kekuasaan Erdoğan akhirnya Republik Turki berbuka puasa dari membangun Masjid berskala besar selama lebih dari satu abad. Sejak perubahan kekaisaran Ottoman menjadi republik Turki Modern hampir bisa dikatakan tidak ada proyek pembangunan masjid besar.

Tidak heran jika pembangunan masjid Camlıca menuai pro dan kontra di kalangan masyarakat. Bagi masyarakat Turki pendukung Erdoğan, ini adalah langkah luar biasa yang disebut-sebut mewujudkan impian Sultan Sulayman yang belum terealisasikan selama hidupnya. Sementara bagi kelompok yang berseberangan politik dengan Erdoğan, tidak jarang yang mengkritik dan menganggap pembangunan masjid ini tidak penting, dan dinilai menghambur-hamburkan uang negara.

Mengamati masjid di Turki kita akan menemukan tiga karakteristik dengan struktur yang berbeda. Perubahan karakteristik dan arsitektur masjid terjadi dari masa ke masa, kurang lebih dalam tiga periode. Periode pertama dikenal dengan periode awal Ottoman, disusul periode klasik dan periode akhir (setelah penaklukan Kostantinopel oleh Muahammad al-Fatih).

Pada masa awal berdirinya Kekaisaran Ottoman, bentuk masjid masih sangat sederhana. Polanya seragam, berbentuk huf “T” terbalik. Bangunan masjid dilengkapi satu kubah besar, satu menara dan sadırvan (tempat wudu). Jenis masjid semacam ini banyak ditemukan di kota Bursa (ibu kota pertama Ottoman) dan Iznik, keduanya merupakan wilayah kekuasaan Ottoman pada awal berdiri. Masjid yang serupa juga bisa ditemukan di Kota Konya Ibu Kota Seljuk.

Dalam Periode ini bangsa Turki baru mengalami fase peralihan dari yang semula hidup nomad menjadi menetap ke satu tempat. Rumah-rumah bangsa Turki pada saat itu masih berupa otağ atau tenda-tenda non-permanen yang bisa dipindah sewaktu-waktu. Sementara itu, bangunan masjid yang dibangun sudah lebih maju dari rumah hunian. Dari sisi arsitektur, bentuk bangunan masjid pada saat itu sangat dipengaruhi oleh bangunan-bangunan gaya Seljuk, Iran dan Memluk.

Pesan toleransi di masjid Ulu Cami

Ulu Cami atau Ulu Jami yang dalam bahasa Indonesia berarti masjid Agung adalah masjid pertama yang dibangun dengan skala besar dalam sejarah Ottoman. Pembangunannya menjadi penanda penting dari kebangkitan kekaisaran bangsa Turki. Bentuk masjid sangat berbeda dengan masjid-masjid sebelumnya, tidak hanya dari sisi kuantitas, tetapi bentuk desain dan teknologi yang diterapkan di masjid ini juga sangat jauh lebih maju dari masjid-masjid sebelumnya. Dari yang paling sederhana misalnya desain Ulu Jami sudah tidak menyerupai huruf “T”, memiliki dua menara, dan yang paling menonjol masjid dimahkotai dengan dua puluh kubah dengan ukuran sedang.

Secara estetika bentuk dari Ulu Cami kurang menarik jika dibandingkan dengan bentuk masjid lain pada periode selanjutnya. Tumpukan kubah yang berukuran sedang berjumlah dua puluh, terlihat kurang pas dan tidak proporsional. Namun dibalik itu semua ada pesan penting mengapa masjid ini memiliki kubah dengan jumlah banyak sampai dengan dua puluh biji.

Konon, sang sultan pernah bernazar untuk membangun masjid sejumlah dua puluh di seluruh tanah kekuasaan Ottoman, namun pada saat itu kondisi ekonomi kerajaan tidak memungkinkan untuk menjalankan nazar tersebut. Berbekal dari nasihet guru spiritualnya, Sultan Beyazid I tetap mewujudkan niatnya untuk membangun masjid dengan ukuran besar, namun karena dananya tidak cukup dia hanya membangun satu masjid tapi dengan dua puluh kubah yang menyimbolkan dua puluh masjid.

Sementara itu, yang menarik dari masjid Ulu Cami adalah sistem penerangannya. Dari dua puluh jumlah kubah yang ada, satu diantaranya dibuat terbuka, sehingga cahaya dari luar dapat masuk ke dalam masjid. Dengan desain seperti ini, pencahayaan masjid di siang hari cukup dengan cahaya matahari yang terpancar dari kubah. Selain itu, persis di bawah kubah yang dibuat terbuka terdapat sebuah çeşme (air mancur), dengan demikian air yang masuk saat musim hujan akan ditampung di kolam air mancur tersebut. keberadaan air mancur di dalam masjid dengan ukuran besar memang terkesan aneh dan tidak lazim saat itu. Tapi keberadaan air mancur tersebut bukan tanpa makna, atau sekedar estetika. Ada pesan toleransi yang besar dalam pembangunan air mancur ini.

Meningkatnya populasi umat Islam dan bertambahnya penduduk menuntut adanya tempat beribadah yang dapat menampung banyak jamaah. Untuk mewujudkan kebutuhan ini kerajaan harus bisa memenuhi sarana beribadah yang memadai. Untuk itu, dibangunlah masjid Ulu Cami.

Untuk membangun masjid ini, kerajaan mengganti rugi tanah warga yang terkena dampak pembangunan masjid. Seperti umumnya proses pembebasan tanah, pembangunan masjid ini sempat terhambat pada fase pembebasan tahan. Ada satu keluarga yang memeluk kepercayaan lokal menolak untuk menjual tanahnya karena akan dibangun masjid. Padahal, tanah keluarga tersebut posisinya persis di tengah tanah yang akan dibangun masjid.

Pihak kerajaan melalui utusannya terus menerus melakukan kompromi dengan pemilik tanah. Sampai akhirnya pemilik tanah mau melepaskan tanahnya dengan syarat tidak boleh dijadikan tempat ibadah. Dalam mengatasi konflik ini, sang sultan memutuskan untuk membangun air mancur di atas tanah tersebut, dengan maksud bahwa tanah tetap tidak digunakan sebagai tempat ibadah. Cerita ini merupakan salah satu bukti bahwa kekaisaran Ottoman sangat menjaga hubungan baik dengan kaum minoritas, mereka juga menjunjung toleransi antar sesama.

Perkembangan arsitektur bangunan masjid di Turki terus mengalami perubahan. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh peradaban bangsa lain yang bersinggungan dengan bangsa Turki. Setelah pembangunan Ulu Cami dan Ottoman berpindah ibu kota dari Bursa ke Edirne, karakteristik dari masjid berkubah tunggal dengan satu menara berubah menjadi kubah banyak dan bertumpuk dan memiliki menara lebih dari satu. Selimiye adalah awal dari masjid dengan banyak kubah dan bertumpuk. Jika sebelumnya Ulu Cami hanya dimahkotai dengan bayak kubah dan formasisinya berjejer, Selimiye jami menerakan konsep yang berbeda. Ada satu kubah utama ditengah yang dikelilingi oleh kubah kecil dibebera sisinya. Kubah juga terdapat di bagian depan, belakang dan di aula luar.

Arsitektur bangunan masjid Ottoman terus berkembang terlebih setelah penaklukan Konstantinopel, karakter masjid berubah mengikuti bentuk Hagya Sofia. Begitu juga di abad 19an, masjid-masjid di Turki mulai mengadopsi model bangunan ala Eropa barat. Untuk contoh terakhir, bisa dilihat pada bentuk arsitektur masjid Ortakoy. Sebuah masjid dengan ukuran sedang yang sangat kental dengan motif-motif Eropa barat pada dinding-dinding dan menaranya. Keberadaan masjid yang tepat terletak di tepi selat Bosphorus membuat masjid semakin memesona dan gagah.

Masjid sebagai pusat kegiatan sosial keagamaan

Secara umum struktur masjid di Turki terbagi ke dalam dua bagian, aula dalam (utama) dan aula luar. Aula dalam merupakan bagian utama dari masjid yang terdiri dari mihrab, mimbar, tempat muazin, eyvan dan tempat salat untuk jamaah perempuan yang ada di belakang. Dalam beberapa masjid yang dibangun sultan, terdapat bagian kecil di depan sebelah kiri tempat khusus untuk raja.

Pada bagian aula utama, ada karakteristik yang dimiliki oleh masjid di Turki yang tidak ditemukan di masjid lain, yaitu tempat muazin yang berbentuk kotak dan menyerupai rumah kecil di dalam masjid dan eyvan atau tempat kegiatan belajar mengajar yang terdapat di sisi kanan dan kiri dari masjid. Eyvan dan tempat muazin dibangun lebih tinggi setengah meter dari lantai aula utama.

Aula luar merupakan bagian terluar dari masjid. Bagian ini dibuat terbuka dan hanya ditutup di bagian tepinya. Aula luar terdiri dari tempat salat untuk jamaah yang datang terlambat, posisinya berada di emperan aula utama, emperan tembok kanan, kiri dan bagian terdepan dekat dengan pintu utama. Di tengah-tengah aula luar terdapat sadırvan (tempat mengambi air wudu), bentuknya persegi delapan dan ditutup bagian atasnya dengan kubah kecil.

Sementara di bagian luar, tepatnya di belakang semua masjid di Turki terdapat pemakaman khusus keluarga. Biasanya pemakaman ini hanya diperuntukkan bagi keluarga kerajaan, arsitek yang merancang masjid dan para penasihat sultan. Meskipun begitu, ada juga satu dua masjid yang lokasi pemakamannya tidak berada di belakang masjid (depan mihrab), diantaranya adalah masjid Eyub al-Ansari. Desain masjid menyesuaikan dengan posisi makam sahabat Ayub, sehingga posisi makam berada di depan bukan belakang masjid. Selain itu, ada juga Hagya Sofia. Tidak ada makam di belakang masjid, posisi makam berada di sebelah kiri bangunan. Dua masjid ini merupakan pengecualian dari masjid-masjid pada umumnya. Namun secara umum, seluruh masjid di Turki dilengkapi dengan makam, baik pemakaman khusus maupun pemakaman umum.

Dalam perkembangannya, masjid-masjid di masa Ottoman, terutama setelah pindah ibu kota dari Edirne ke Istanbul, dilengkapi dengan medrese/kuliye (lembaga pendidikan), rumah sakit, rumah sakit jiwa, perpustakaan dan lembaga wakaf. Jika pada periode awal dan klasik masjid hanya menyediakan eyvan sebagai tempat belajar alquran dan ilmu-ilmu Islam, maka pada periode kejayaan masjid sudah dilengkapi dengan fasilitas pendidikan dan perpustakaan yang berada di sekitar masjid, namun bangunannya masih satu kesatuan dengan bangunan utama masjid.

Ahmad Munji, Ketua Tanfidziyah PCI NU Turki dan mahasiswa doktoral di Universitas Marmara Turki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.