Tepat pada malam hari sebelum pembukaan Kongres Nasional XVII Perhimpunan Perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI) 22 Mei 2023, saya berkesempatan mengadakan Nobar dan Diskusi Film “Sang Pemula” di Gelora FKIP Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Film karya duo sineas muda Indonesia, yakni Surya Penny dan Senry Alvin itu dikupas habis oleh Muhidin M. Dahlan, seorang Dokumentator Partikelir di Warung Arsip Yogyakarta. Selain itu, ia juga didapuk sebagai pemantik diskusi pada malam itu. 

Film berdurasi 12 menit tersebut menyimpan serat benang yang jika kita urutkan, ada kaitannya dengan perjalanan perjuangan Bapak Pers Nasional, Raden Mas Tirto Adi Soerjo. Mulai dari propaganda melalui tulisan hingga perlawanan berdasarkan perspektif jurnalisme.

Senjata itu Bernama “Pena” 

Raden Mas Tirto Adi Soerjo merupakan jurnalis pertama Indonesia yang menggunakan tulisan sebagai media perlawanan dan keadilan.

Terhitung sekitar 116 tahun lalu, Tirto menggunakan Platform tercanggih di zamannya, yakni media cetak untuk menyebarkan propagandanya. Ia meramu dialektika pemikirannya ke dalam tulisan dan mencetaknya di surat kabar.

Keberanian Tirto membuat pemerintah kolonial geram. Sebab, ia telah berhasil menarik perhatian masyarakat untuk memanfaatkan informasi dari tulisan-tulisannya. 

Terhitung mulai tahun 1903, ia memulai karier jurnalistiknya dengan mengurus dan mengelola surat kabar Soenda Berita yang sekaligus menjadi surat kabar pertama yang dikelola pribumi. Empat tahun berselang, ia menerbitkan surat kabar mingguan Medan Prijaji, atau hingga tahun 1912.

Dengan kegigihannya, jika saja Tirto hidup pada hari ini, bukan tidak mungkin ia sudah menjadi “Dewa Konten” melalui platform kekinian yang canggih. Seperti melalui Twitter, Instagram, Facebook bahkan TikTok.

Keterampilan Menulis

Perlawanan Tirto yang demikian tak lepas dari kemampuan menulisnya yang paripurna. Tak hanya menulis soal propaganda dan kendali masyarakat, ia juga mempelajari segala hal yang diperlukan berdasarkan permintaan.

Soal kesehatan, saya kuasai. Gaya hidup , pendidikan, resep masakan, kuliner dan hal lain yang bersifat edukatif juga tidak luput dari perhatiannya. 

Medan Prijaji sejak tahun 1910 beralih menjadi surat kabar harian, terbit setiap hari kecuali hari jum’at, minggu dan hari besar. Rubrik yang paling digemari masyarakat adalah Surat Jawab penyuluhan hukum gratis.

Tirto sadar dan mampu membaca kondisi masyarakat pribumi yang rentan terkena jeratan hukum. Ia lantas menyalin undang-undang hukum yang berlaku dan ditetapkan oleh pemerintah kolonial ke dalam bahasa melayu.

Terhitung sebanyak 225 kasus pada tahun 1911 telah dibantu oleh Medan Prijaji dan menjadikan surat kabar itu disebut sebagai pelopor advokasi jurnalisme.

Skill menulis yang dimiliki Tirto patut menjadi kiblat dan perhatian jurnalisme masa kini. Bahkan juga menjadikan PR besar untuk keberlanjutan Pers dan jurnalisme anak bangsa.

Sebagaimana kini yang perlu kita sadari bersama, kita masih harus meningkatkan kemampuan menulis itu sehingga menjadi senjata dalam arti denotatif. Bukan sekedar perlawanan, namun menjadi kendali masyarakat sebagai penyambung lidah terhadap kebenaran.

Keberpihakan dan Ideologi Pers

Bagi Tirto, kelas masyarakat Belanda terbagi menjadi dua, yang diperintah dan yang memerintah. Dalam kondisi yang seperti ini, masyarakat yang sering mengalami penyesuaian adalah golongan masyarakat yang diperintah. 

Keberpihakan Tirto akan hal ini tentunya menyangkut kepada golongan yang diperintah. Ia melihat bahwa melalui panggung Pers, segalanya dapat dijangkau lewat tulisan. Sebab telah menguasai segala bahan tulisan sebagai “Konten” untuk pencerahan nalar yang diterbitkan lewat surat kabar.

Melalui film “Sang Pemula”, diketahui bahwa surat kabar pertama Tirto yakni Soenda Berita, harus gulung tikar karena mengalami masalah finansial. Baru selanjutnya, dengan semangat yang membara, Tirto mulai menulis permasalahan bangsanya secara lebih tegas dan tajam melalui surat kabar Medan Prijaji.

Perjuangan Tirto mencapai puncak pada tahun 1912, di mana surat kabarnya berhasil menjangkau 20.000 pelanggan. Akan tetapi, setahun setelahnya, ia terjerat kasus dugaan penghinaan terhadap pemerintah setempat. Kemudian ia diasingkan ke Pulau Bacan, Ambon.

Merintis Srikandi Pers

Sebelum Tirto terbungkam akibat pengasingan, ia juga diketahui berhasil mendirikan surat kabar Poetri Hindia. Sebuah surat kabar yang memberikan ruang dialektika untuk perempuan. Salah satu tokoh yang sering diulasnya ialah R.A Kartini.

Upaya Tirto mengawali pergerakan perempuan Hindia dilancarkan melalui surat kabar Soenda Berita yang terbit pertama kali pada 7 Februari 1903.

Penyediaan rubrik khusus yang menerbitkan Soenda Berita untuk perempuan berlanjut dengan penerbitan surat kabar Poetri Hindia pada 1 Juni 1908. Di sana menjadi bukti hubungan tegas antara kiprah jurnalistik Tirto Adi Soerjo dengan perjuangan emansipasi wanita yang terangkum dalam sejarah bangsa Indonesia.

Saking gencarnya, surat kabar itu terbit berkala dalam dua kali dalam sebulan. Poetri Hindia hadir dengan jumlah halaman 10-15 dalam tiap edisinya.

Sebagian besar isi Poetri Hindia menyangkut hal ihwal yang berkaitan dengan kaum wanita, baik kebutuhan remaja maupun ibu-ibu seperti rubrik “Perempuan Hindia”, “Perawatan Kecantikan”, “Pemeliharaan Anak”, juga banyak tulisan mengenai tips dan etika dalam urusan berumah tangga.

Meski Poetri Hindia tak banyak bicara soal kesadaran perempuan sebagai subjek dan pelaku pergerakan, keberadaan perempuan dalam media ini menunjukkan mereka dalam peran publik: sebagai pewarta.

Kiprah jurnalistik Tirto Adi Soerjo dan segala hal yang menyangkut dirinya merupakan langkah awal Sang Pemula. Perintis aktivitas jurnalisme di Indonesia yang kemudian melahirkan nama-nama seorang pemikir besar yang juga aktif dalam menulis.

Jika meruntuhkan perjalanan perjuangan Tirto Adi Soerjo, tentu tak asing bagi para pejuang pers masa kini. Baik gejolak politik dan sosial maupun sepak terjang insan pers dalam pembelaan informasi yang tak hanya berpura-pura pada kebenaran, namun juga memperjuangkan tegaknya keadilan. 

Meskipun begitu, baik dari satu abad yang lalu ketika jurnalisme di negeri ini mulai ditegakkan maupun hingga hari ini, ketika jurnalisme masih berdiri namun dengan badai yang tak kalah dahsyat, sudah selayaknya nilai dan esensi perjuangan “kebenaran” harus tetap berdiri di akarnya. Terkhusus guna melahirkan produk jurnalistik yang selalu relevan, aktual, dan mampu membawa perubahan.

Oleh: Rossihan Anwar 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.