Andai saja saya tidak terlalu agresif dan sedikit bersabar dalam membaca novel, mungkin saya tidak akan kebingungan menulis catatan ini. Tapi nyatanya, kebiasaan bedebah ini benar-benar tidak bisa dihilangkan. Setiap kali membaca novel yang bagus (tentu ini penilaian pribadi) saya akan menyelesaikannya dalam sekali-duduk. Rasa penasaran itu berhasil membujuk agar segera sampai pada lembar terakhir. Saya mulai membaca novel ini sekitar jam 12 malam dan selesai tidak lama setelah adzan dzuhur terdengar.

Ya, pernyataan pembuka ini saya tulis agar yang membaca tulisan ini tahu kalau saya bukan tipe pembaca yang baik, dan memaafkan kalau seandainya catatan ini tidak merangkum apa-apa.

***
Sejak semula, waktu adalah pemburu terbaik. Sedangkan kita hanyalah manusia yang melompat keluar dari rahim ibu lalu berlari menaklukkan padang-padang kehidupan. Memenuhi kehendak Ilahi.

Annggap saja kalimat di atas sebagai prolog. Begitu selesai membaca novel ini, saya langsung terbayang dua peristiwa penting yang sering kita saksikan: kelahiran dan kematian.

Setiap yang dilahirkan harus mencari rahasia dirinya sendiri pada kehidupannya. Bahkan, keyakinan ini telah membawa pada satu bentuk keyakinan yang lain: barangkali kematian, atau perpindahan manusia dari alam ini menuju alam lain (akhirat), menyerupai kelahiran bayi dari rahim ibunya.

Novel ini penuh dengan tragedi. Diracik dengan kisah kolosal Oedipus Sang Raja karya Sophocles, serta kesamaannya dengan cerita Sohrab dan Rostam dalam kisah Shahnameh karya Ferdowsi.

Pamuk menyajikannya dengan indah. Sekalipun terkesan tergesa-gesa, begitu cepat, tapi novel ini menyimpan sisi gelap. Oedipus membunuh ayahnya, sedangkan Sohrab dibunuh oleh ayahnya. Pertarungan antara anak dan ayah ini terjadi karena mereka tidak mengenal dan tidak pernah bertemu sebelumnya.

Orhan Pamuk, dalam novel ini menyebutnya dengan istilah memenuhi kehendak Ilahi. Baik Oedipus maupun Rostam tidak mampu berpikir dengan jernih. Seolah-olah takdir Tuhan telah menggerakkan tangan ayah dan anak itu mengayunkan pedang hingga menghilangkan rasa keraguan untuk saling membunuh. Kisah Oedipus dan Rostam menjadi dasar cerita novel The Red-Haired Woman.

***

Anak muda bernama Cem baru berusia 16 tahun ketika bertemu dengan wanita berambut merah yang usianya 33 tahun. Anak ini jatuh cinta pada perempuan pemain teater yang lihai. Gadis pemilik rambut warna merah itu juga menyukainya.

Bibirnya yang lengkung serta matanya yang bulat telah membuat anak ini mabuk oleh cinta. Cem selalu mencuri waktu disela-sela menemani tuannya si penggali sumur, Tuan Mahmut, membeli tembakau di kota terdekat, Ongoren.

Pada saat-saat seperti itu Cem akan memanfaatkan kesempatan untuk menyelinap lari ke alun-alun stasiun dan berjalan sampai bisa melihat jendela-jendela gedung tempat wanita itu tinggal. Bahkan, sekali waktu, cem pernah diam-diam membuntuti wanita berambut merah dari belakang.

Novel ini berhasil membuat pembaca berpetualang. Pertemuan Cem dengan Tuan Mahmut menyita waktunya untuk berlama-lama bersama karena berbulan-bulan menggali sumur dan tak kunjung menemukan sumber air. Tapi Tuan Mahmut tidak mau menyerah. Dia terus menggali bersama Cem, sekalipun temannya yang bernama Ali sudah menyerah.

Semula Cem hidup di keluarga yang keuangannya stabil. Ayahnya punya apotek. Tetapi karena ayahnya berpaham kekiri-kirian (keluarga komunis), malapetaka pun tak terhindarkan. Dia ditangkap saat kudeta militer melanda Turki.

Keinginan Cem untuk melanjutkan pendidikan berantakan. Kondisi ekonomi keluarga terseok-seok. Ia kemudian meninta izin kepada ibunya untuk menjadi asisten penggali sumur. Pekerjaan menggali sumur di Ongoren mengantarkan Cem menuju garis takdirnya.

Malam itu Cem datang sendirian ke alun-alun stasiun, menemui perempuan berambut merah yang mengajaknya kencan. Dia tidur dengan seorang wanita untuk pertama kalinya. Di sinilah sebuah tragedi baru dimulai.

Sejak peristiwa itu pula alur cerita novel ini bergerak cepat. Kosentrasi Cem sebagai asisten penggali sumur mulai pecah. Tanpa sengaja, Cem menjatuhkan ember ke dalam sumur dan mengenai bahu tuan Mahmut. Ia meninggalkan tuan Mahmut terjebak di dasar sumur, lalu memilih melarikan diri setelah usahanya mencari bantuan nihil dan tidak tahu apa yang harus diperbuat.

Tapi beginilah adanya. Sifat pengecut, watak busuk, dan ambisinya yang tinggi mengantar Cem menjadi pengusaha properti sukses. Dia menikah dengan gadis cantik bernama Ayse. Tapi keduanya tidak kunjung mendapatkan keturunan. Sejauh usaha yang mereka lakukan, begitu Cem memasuki usia 40 tahun dan Ayse 38 tahun, mereka mulai melepaskan keyakinan untuk memiliki anak.

Hari-hari dijalaninya dengan penuh kedekatan. Mendatangi perpustakaan, dan melakukan kunjungan-kunjungan ke berbagai museum. Tapi waktu adalah pemburu ulung, sepintar apapun menyimpan rahasia akhirnya akan terbongkar juga. Pergolakan batinnya kembali mengingatkan Cem pada kisah Oedipus serta Sohrab dan Rostam yang diyakini akan menjadi kenyataan.

Novel ini ditutup di kota Ongoren. Kota tempat tuan Mahmut dan dua asistennya, Ali dan Cem menggali sumur. Penggalian sumur di Ongoren seolah menjadi isyarat bagi Cem jika sebenarnya dia sedang menggali kuburan untuk dirinya sendiri. Ketika terlibat percekcokan dengan Enver, anak dari hasil persetubuhannya dengan perempuan berambut merah, mengantar Cem menuju kematian yang tragis.

“Dia menembak ayahnya di matanya!” Demikian putusan penyelidik disebarkan di halaman-halaman depan Koran pada hari berikutnya. Apakah ada pertanyaan?

Oleh: Hasan Tarowan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.