Istilah net generation sering disebut-sebut akhir-akhir ini, baik dalam diskusi maupun dalam obrolan keseharian. Banyak yang menamai generasi muda sekarang sebagai net generation. Siapakah sebenarnya net generation itu? Benarkah setiap anak muda yang hidup di era ini adalah net generation? Apa ciri-ciri net generation? Lalu, apa sebutan bagi anak muda yang hidup sebelum net generation? Dan apa pula yang membedakannya?

Rahma Sugihartati, dalam bukunya yang berjudul Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer mencoba memaparkan apa sebenarnya yang dimaksud dengan istilah net generation. Menurutnya, net generation adalah remaja yang tumbuh besar dalam masa perkembangan teknologi informasi yang luar biasa cepat. Remaja yang termasuk net generation lebih banyak menghabiskan waktunya untuk menggunakan handphone, komputer, iPod, iPad dan selalu tersambung ke internet. Mereka kuat berselancar di dunia maya, dengan menggunakan smartphone-nya, sampai berjam-jam, bahkan melebihi aktivitas nonton TV, istirahat, tidur dan bermain dengan peer group-nya. Mereka asyik berkomunikasi, yang tak jarang sampai melampaui batas wilayah bahkan benua, melalui koneksi internet.

Net generation umumnya sangat jarang terlepas dengan smartphone. Banyak dari mereka selalu membawa smartphone ke manapun mereka pergi. Seperti jalan-jalan ke mall, ngopi di cafe, mereka selalu membawanya. Untuk mengatur lingkungannya, net generation membutuhkan kecepatan dan kemudahan dalam mengakses informasi. Mereka juga memiliki kebiasaan meluangkan waktu untuk diri mereka sendiri, dan tidak ingin dikekang dalam kehidupannya. (h. 101).

Net Generation dan Pendahulunya

Rahma Sugihartati menyatakan, bahwa net generation bukanlah remaja atau generasi muda yang muncul begitu saja karena perkembangan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi dan informasi erat hubungannya dengan kemunculan mereka (h. 101). Sebelum net generation lahir, generasi sebelumnya juga memiliki karakter yang khas, yang juga berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi, namun tidak seperti net generation.

Dalam bukunya tersebut, Rahma Sugihartati mengutip pendapat Tapscott (2009), yang mengelompokkan beberapa generasi pendahulu. Tapscott menyebut generasi yang lahir antara tahun 1946-1964 sebagai generasi the baby boom atau a baby boomer. Generasi ini tumbuh dalam suasa sosial-politik yang yang relatif tenang—berbeda dengan generasi sebelumnya yang tumbuh dalam situasi perang—walaupun begitu, mereka memiliki semangat memberontak dan tak jarang dari mereka yang larut dalam pengaruh budaya bohemian, dan banyak pula dari mereka yang membenci peperangan (h. 102).

Sebutan lain dari the baby boom adalah the TV generation. Sebutan tersebut dilatarbelakangi oleh kehidupan mereka yang berada di masa penyebaran dan pengaruh TV benar-benar luar biasa, yang menjadi bagian dari produk budaya. Generasi ini, menurut Tapscott, memiliki sikap atau mentalitas yang santai, namun memiliki pemikiran radikal dan cenderung anti kemapanan (h. 103). Karena generasi ini hidup di masa penyebaran dan pengaruh TV yang masif, maka banyak acara TV yang menghibur dan spektakuler membuat beberapa dari generasi ini terbuai dengan gaya hidup yang ditayangkan.

Selain sebutan yang telah dijelaskan di atas, generasi ini juga memilki sebutan lain, yakni cord war generation, the growth economy generation. Dua sebutan ini berhubungan dengan situasi politik waktu itu, saat terjadi perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet dan pertumbuhan ekonomi waktu itu yang spektakuler, sehingga membuat situasinya berbeda dengan masa-masa sebelumnya.

Setelah generasi yang berjuluk the baby boom, generasi yang lahir antara 1965-1976, disebut oleh Tapscott dengan nama the baby bust atau generasi X. Menurutnya, generasi ini muncul 10 tahun sesudah munculnya generasi teh baby boom. Pada waktu itu, bersamaan dengan lahirnya generas X, tumbuh kesadaran dalam masyarakat negara-negara maju tentang pentingnya merencanakan jumlah anak dan pentingnya menunda perkawinan. Kesadaran tersebut mengakibatkan jumlah kelahiran penduduk dunia berkurang 15%.

Generasi X juga disebut the best-educated group, yang berarti generasi yang menyadari betul arti pentingnya sebuah pendidikan. Maka tak jarang dari generasi ini yang memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Generasi ini tumbuh dalam iklim persaingan global yang semakin ketat ini menganggap pendidikan sebagai modal sosial yang penting dalam meraih kesuksesan masa depan.

Generasi setelah generasi X atau baby bust, adalah generasi yang lahir antara tahun 1977 sampai 1997. Generasi ini disebut net generation atau generasi Y, atau yang lebih familiar lagi disebut generasi millenials. Sebagaimana telah dijelaskan di awal, generasi ini adalah generasi yang tumbuh bersama perkembangan teknologi informasi yang luar biasa. Generasi millennials adalah generasi yang sejak awal sudah akrab dengan internet. Mereka juga tidak terlalu terpesona dengan TV, sebagaimana generasi sebelumnya (104). TV dan internet memiliki perbedaan. Jika TV itu bersifat pasif, maka internet bersifat aktif. Artinya, internet memberi kebebasan yang lebih dalam hal memilih kepada generasi Y. Tampaknya, faktor inilah dari berbagai faktor lain, yang membuat generasi Y berbeda dengan generasi sebelumnya.

Sekedar catatan dan perlu diingat, apa yang dikutip oleh Rahma Sugihartati dari Tapscott terkait pembagian macam-macam generasi di atas, sepertinya belum tentu berlaku di semua negara. Karena, perkembangan teknologi, khususnya teknologi informasi, ada kemungkinan berbeda satu sama lain di berbagai negara.

Net Generation dan Potensi-Potensinya

Net generation memiliki ciri atau karakteristik yang khusus. Setidaknya ada delapan karakteristik net generation yang disebutkan oleh Tapscott (2009), sebagaimana dikutip oleh Rahma Sugihartati dalam bukunya.

Yang pertama adalah freedom atau kebebasan. Maksudnya, internet memberikan net generation sebuah kebebasan, dimana net generation mampu memilih apa yang ingin dilakukannya, seperti dalam membeli produk, mencari informasi, membaca buku maupun menonton film.

Misalnya dalam mencari suatu produk, mereka akan mempertimbangkan dahulu melalui informasi tentang produk tersebut, yang mereka akses di internet. Generasi ini sudah mengetahui terlebih dahulu produk yang akan mereka beli.

Kedua adalah customization, yang berarti net generation adalah konsumer aktif yang mampu memperoleh apa yang diinginkannya dan memilikinya. Maka tak mengherankan, jika generasi ini mengkonsumsi produk yang benar-benar diinginkan dan dibutuhkannya.

Scrutiny adalah karakteristik ke tiga yang disebutkan Tapscott, bagi net generation. Scrutiny merupakan karakteristik yang menandai bahwa net generation memiliki sikap kritis yang baru. Generasi yang akrab dengan teknologi informasi ini, berpotensi mampu membedakan antara yang fiksi dan yang nyata. Generasi ini juga berbeda dengan generasi sebelumnya yang cenderung terhegomoni. Net generation memiliki akses terhadap berbagai informasi, dan bebas memilihnya. Dengan menggunakan teknologi digital, mereka memiliki potensi membongkar apa yang sebenarnya terjadi di sekelilingnya.

Selain tiga karakter yang telah disebutkan, net generation memiliki karakter integrity, yang berarti memiliki integritas yang kuat, sadar dan bertanggung jawab. Karakter lainnya adalah collaboration, entertainment, speed, dan innovation. Dengan penyebutan karakter integrity, collaboration dan innovation, Rahma sugihartati, tampaknya ingin menolak anggapan negatif yang disematkan kepada net generation.

Dengan adanya karakter integrity, akan tertolak dengan sendirinya anggapan bahwa net generation bersikap uportunis dan tak peduli dengan banyak hal. Lalu, karakter collaboration dan innovation juga dengan sendirinya menganulir stereotipe bahwa net generation cenderung bersikap soliter dan tidak menganggap penting arti berkolaborasi dengan yang lain. Justru dengan kemampuan mereka berkoneksi secara online, berkolaborasi dengan yang lain merupakan insting alamiya. Net generation juga berpotensi akan selalu berinovasi. Net generation adalah generasi yang lahir di tengah era penemuan dari buah berinovasi yang dinamis. Hal ini memicu net generation akan terbuka dengan ide-ide baru, bahkan bagi mereka, ide baru, temuan baru, dan masa depan baru merupakan hal yang penting (h. 109).

Berbeda dengan beberapa karakter, yang bernuansa positif, karakter speed, yang di satu sisi punya kelebihan, namun juga punya dampak negatif. Karakteristik kecepatan, bisa mengakibatkan tiadanya momen yang benar-benar tenang bagi net generation. Bisa saja net generation selalu berada dalam tekanan, dan itu bisa membuat mereka mengidap stress. Net generation selelu menuntut dan dituntut untuk memberi respons yang cepat, seperti komunikasi yang terjadi di bbm, whatsapp dan messenger.

Selain pembahasan pengertian dan karakter net generation, Rahma Sugihartati juga menjelaskan perilaku informasi (h. 110) dan membaca (h. 121) net generation di era digital. Ia juga melakukan pemetaan dengan menggunakan berbagai data dan teori dari beberapa tokoh. Sebelum membahas net generation, Rahma sugihartati, lebih dahulu menjabarkan pengaruh perkembangan teknologi informasi terhadap berbagai hal, seperti konvergensi media (h. 85), sosial ekonomi (h. 91) dan identitas di dunia maya (h. 95).

Buku Perkembangan Masyarakat Informasi & Teori Sosial Kontemporer terbagi menjadi eman bab, yang bisa dibaca secara terpisah. Setiap bab, tampaknya sengaja oleh penulis tidak disambungkan, walaupun temanya tetaplah berhubungan. Bab pertama sampai bab empat, dibahas berbagai teori dan tokohnya, misalnya Fungsionalisme dan Neo-fungsionalisme, Marx dan Neo-Marxian, Public Sphere dan Habermas, Informasinalisme dan Manuel Castells. Baru setelah membahas teori-teori tersebut, Rahma Sugihartati, di bab ke lima, membahas komunitas cyberspace, net generation dan perilaku masyarakat informasi era digital. Namun pembahasannya tidak sampai di situ, Ia menambahkan pembahasan tentang teori sosial Post-modern pada bab enam. Dari asal usul Post-modern sampai kritik terhadap Post-modern, ia bahas.

Buku ini memiliki kelebihan berupa pemetaan dengan menggunakan berbagai tabel yang mempermudah pembaca dalam memahami isi buku. Namun, buku ini tampaknya tak akan menjadi sangat akrab dan cenderung membosankan bagi pembaca yang suka dengan buku cerita. Bahasa buku ini terkesan sangat formal, dan agak kaku, seperti beberapa buku penelitian pada umumnya.

Sebagai pengantar memasuki era informasi, buku ini memiliki optimisme yang tinggi terhadap potensi net generation yang positif. Penulis buku ini berusaha menginformasikan perihal potensi net generation yang luar biasa.

Tulisan ini pernah dimuat di Majalah Idea Edisi 39, Januari 2017

Zaim Ahya, Founder takselesai.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.