Pernahkah merasa cemas ketika melihat kesuksesan orang lain? Merasa tertinggal dan sulit mencapai apa yang diinginkan? Menyalahkan diri sendiri ketika mengalami kegagalan, serta sulit percaya pada orang lain?

Banyak orang yang tenggelam dalam perasaan kekalutan semacam ini. Bahkan sampai berlarut-larut dan mengalami depresi. Terutama dialami oleh orang-orang yang sedang berada dalam proses dan sedang menjajaki pencarian jati diri.

Perasaan ini biasanya muncul ketika kita beranjak dewasa. Ketika kita mampu berpikir rasional tentang masa depan, bukan seperti anak kecil atau remaja yang berekspektasi besar terhadap dirinya sendiri. Kalau orang Jawa menyebut masa ini dengan istilah “wes ndolor” (memahami sesuatu dengan lebih baik). Pada masa ini, seringakali menimbulkan perasaan risau dan khawatir akan bagaimana “cara” hidup.

Makin dewasa makin banyak tantangan hidup yang sebelumnya tidak pernah kita ketahui. Seperti perasaan gelisah, hampa, galau, dan rasa aneh lainnya. Perasaan-perasaan seperti ini hanya dapat dirasakan ketika kita beranjak dewasa, dan itu sangatlah tidak enak.

Kedewasaan seseorang hanya akan tercapai ketika kita sudah merasakan pahitnya hidup dan mulai mencari tahu apa penyebab kepahitan tersebut. Sehingga, itu akan membuat kita mulai mengenal diri sendiri, serta mulai tahu di mana letak kebahagiaan diri kita sendiri.

Jika kita ingin memiliki hidup yang bahagia, dewasakanlah diri kita terlebih dahulu. Melalui penempaan terhadap proses dan pengalaman hidup yang lebih banyak. Meskipun di setiap perjalanannya, tentu akan menemui kendala dan butuh usaha keras untuk menyelesaikannya. Akan tetapi, proses yang memiliki banyak rasa, tidak manis saja, akan berahir jika kita menikmati rasa itu. Terlebih ketika kita mampu mempelajari keadaan diri kita sendiri.

Dalam bahasa yang trendy, orang-orang menyebut proses pendewasaan ini sebagai Quarter life crisis (QLC). Dialami oleh orang-orang dalam usia 18 samapi 30 tahun. Biasanya, ditunjukkan dengan perasaan tidak memiliki arah, khawatir, bingung, dan galau akan ketidakpastian kehidupannya di masa mendatang.

Umumnya, kekhawatiran ini meliputi masalah relasi, percintaan, karier, dan kehidupan sosial. Tidak hanya itu, orang yang mengalami QLC bahkan kerap mempertanyakan eksistensinya sebagai seorang manusia. Ada juga orang yang sampai merasa bahwa dirinya tidak memiliki tujuan hidup.

Kekhawatiran dan rasa ketertinggalan tersebut adalah suatu hal wajar dan dialami oleh  sebagian besar orang yang mulai tumbuh. Namun tetap saja QLC bukanlah suatu hal yang mudah tentunya. Akan ada rasa hampa, lelah, serta tidak ada motivasi untuk melakukan aktivitas apapun. Sialnya, perasaan tidak ingin melakukan apapun menjadikan diri tidak produktif dan semakin tertinggal dan tertinggal. Seperti lingkaran setan yang tidak ada habisnya.

Meskipun dialami oleh sebagian banyak orang, bukan berarti QLC tidak bisa diatasi. Berdasarkan situs kesehatan alodokter.com, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk mengatasi QLC dan meredam kecemasan yang muncul.

Pertama, berhenti bermindset “Kesuksesan Orang Lain adalah Kegagalan Kita”. Membandingkan diri dengan orang lain hanya akan membuang-buang waktu. Karena setiap orang memiliki kemampuanya masing-masing. Hal tersebut memang manusiawi, namun jika terus menerus dilakukan kita tidak bisa fokus pada diri sendiri dan sulit untuk bersyukur dan mengembangkan diri.

Kedua, self love. Kita harus mengahrgai diri sendiri dengan apapun pencapaian yang sudah kita lakukan. Melihat kembali kelebihan-kelebihan diri yang selama ini sering tidak dihiraukan, karena terlalu berfokus pada kekurangan diri. Hal ini bisa membantu kita meng-upgrade kemampuan kita.

Ketiga, membangun relasi yang baik. Kebahagiaan tidak hanya lahir dari uang, cita-cita yang tercapai, ataupun keinginan yang terpenuhi. Tetapi juga dari ‘connected’ atau hubungan. Tentunya hubungan berkualitas dan memacu produktivitas. Baik hubungan dengan orang tua, teman, ataupun pasangan. Relasi yang kita miliki dapat memberikan dukungan moral kepada kita.

Selanjutnya, kita juga harus memahami proses. Pengetahuan akan proses ini menjadi penting karena ini menjadi kunci dalam penyelesaian sebuah permasalahan. Seringakali proses kita terhenti karena tidak bisa menemukan jalan keluar.

Sebenarnya bukan tidak menemukan, tetapi hanya enggan saja untuk menguraikan permasalahan sampai ke akarnya. Terlebih, kita juga cenderung takut untuk mengetahui kekurangan atau kesalahan yang dilakukan diri sendiri. Padahal dengan proses “mengetahui” ini yang akan mebawa kita pada kedewasaan dan tingkat pemahaman akan hidup yang lebih baik. Karena kita bisa menumpas sumber permasalahan sampai ke akarnya.

Seringkali yang membuat permasalahan tidak kunjung usai dan membawa kita pada keresahan berlebih ialah kenyataan bahwa kita melarikan diri dari sumber masalah. Tidak berani mendekati dan menjadikan permasalahan sebagai teman yang baik untuk berproses dan menjadi diri yang lebih baik lagi.

Terakhir, let it flow. Biarkan semuanya mengalir dengan sendirinya. Menikmati prosesnya sembari terus mengasah kemampuan diri. Melihat permasalahan tidak dengan emosi yang berlebih serta membawa diri dalam keadaan netral ketika menghadapi permasalahan. Sehingga kita benar-benar memahami apa yang terjadi dan bisa segera beranjak ke tingkat kehidupan yang lebih tinggi lagi.

Oleh Maulidya Roisa Addinilhaq

7 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.