Di bagian akhir karya otobiografinya, al-Munqid min al-Dhalal, Imam al-Ghazali berdoa kepada Allah semoga ia ditunjukkan kebenaran sebagai kebenaran dan bisa mengikutinya, dan ditunjukkan kebatilan sebagai kebatilan, dan diberi kekuatan menjauhinya.

Doa yang demikian itu sebenarnya akrab dengan kita sedari kecil: “Allahumma Arina al-haqqa haqqan…”, namun tadi malam ketika menela’ah karya Sang Hujjatul Islam ini seakan ada makna baru yang terjumbul dalam hati, yang tak tampak sebelumnya.

Dari doa itu, kebenaran (haq) dan kebatilan (bathil) terlihat tidak sederhana. Ada realitas kebenaran dan kebatilan, ada penampakan kebenaran dan kebatilan, dan ada sikap melakukan kebenaran atau menjauhi kebatilan.

Tahap pertama, seseorang meminta untuk diperlihatkan apa itu yang benar dan apa itu yang batil sebagaimana adanya. Kenapa demikian? Karena tak semua kebenaran tampak sebagai kebenaran bagi kita. Begitu juga kebatilan, juga tak tampak sebagai kebatilan bagi kita. Bahkan bisa jadi tampak berkebalikan, maka berdoa yang demikian ini penting.

Mengetahui kebenaran dan kebatilan sebagaimana adanya ternyata juga tidak cukup. Banyak orang yang tahu kebenaran sebagaimana adanya, tapi tak punya kemampuan dan keberanian mengikuti dan melaksanakannya. Begitu juga perihal kebatilan, banyak orang yang tahu itu batil, tapi tak semua dari mereka punya kemampuan dan keberanian menjauhinya. Jadinya, kebenaran terhenti pada pengetahuan dan perbincangan atasnya. Ini yang tampaknya dikritik oleh Drupadi, salah satu lakon di Mahabharata, “Apa gunanya kebenaran, jika tak bisa menghancurkan kejahatan, tapi hanya sekedar membicarakannya.”

Begitu kira-kira, apakah anda setuju?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.