Dulu, ketika proses pemantapan judul skripsi tentang informasi dari perspektif al-Quran, saya bertanya kepada salah satu senior di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Idea, Day Milovich: “Apakah sudah ada buku yang membahas perihal informasi?”

Ia menjawab dengan merekomendasikan dua buku: Dunia yang Dilipat karya Yasraf Amir Piliang dan Hegomoni Budaya.

Tidak seperti Dunia yang Dilipat yang ditulis satu orang, Hegomoni Budaya adalah buku yang mengumpulkan tulisan beberapa penulis: Jalaluddin Rakhmat, Dedy. Djamaluddin Malik, Yudi Latif dan Idi Subandy Ibrahim.

Buku yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka kisaran tahun 1998 ini memuat tulisan-tulisan dari empat penulis yang telah disebutkan di atas yang dikelompokkan dengan lima tema besar:

Bagian Satu: Respons Islam atas Hegomoni Media: Kooperasi atau Konfrontasi

Bagian Dua: Komunikasi dan Bahasa Kekuasaan: Relasi Media dengan Negara

Bagian Tiga: Produksi Budaya Massa dan Implikasi Kultural Hegomoni Media

Bagian Empat: Hegomoni Budaya Televisi dan Kecemasan Masyarakat Pascamodern

Bagian Lima: Menolak Hegomoni: Kebebasan Ekspresi dan Ruang Publik

Kendati ditulis oleh empat penulis, namun buku ini oleh beberapa dinisbahkan kepada Jalaluddin Rakhmat. Kalau dalam pencarian di internet, ada keterangan bahwa buku ini ditulis oleh Jalaluddin Rakhmat dkk. Hal ini mungkin lantaran tulisan Jalaluddin Rakhmat menempati posisi paling awal dalam buku tersebut.

Alasan lain bisa jadi karena tulisan Jalaluddin yang menempati posisi awal, yang berjudul Peranan Islam dalam Menyongsong Era Informasi merupakan pengantar bagi tulisan-tulisan lainnya di Bagian Satu buku ini.

Buku yang berisi kumpulan tulisan yang merespons budaya baru, yakni budaya massa, yang terbentuk melalui media lantaran, salah satunya, perkembangan teknologi informasi ini juga memuat tulisan-tulisan Jalaluddin Rakhmat yang lain.

Di Bagian Satu, selain tulisan yang telah disebutkan di atas, ada dua tulisan yang lain: Islam dan Komputer, dan Dakwah dan Komunikasi Massa: Kooporasi atau Konfrontasi.

Di Bagian Kedua tulisan Jalaluddin tidak muncul. Tulisannya muncul kembali di Bagian Ketiga dengan judul Generasi Muda di Tengah Arus Perkembangan Informasi, dan Bagian Keempat dengan judul “TV Sudah Menjadi The First God”.

Keempat tulisan Jalaluddin Rakhmat di atas di buku copy-an yang saya baca tersilap, alias tak ikut tercopy. Hanya tulisannya yang terakhir di Bagian Kelima yang ikut tercopy, yakni tulisannya yang berjudul Kebebasan Berekpresi dan Tanggung Jawab Etis.

Dalam tulisannya yang terkahir itu, dijelaskan bahwa kebebasan berekspresi itu harus dibarengi dengan tanggung jawab. Hanya saja, jelas tulisan tersebut, orang-orang banyak memilih kebebasan namun tidak dengan tanggung jawab. Jalaluddin Rakhmat menulis:

“Siapakah menusia yang memperoleh kebebasan murni dan menafikan tanggung jawab? Seorang tiran. Bila Anda tiran, Anda dapat melakukan apa pun yang Anda kehendaki, kecuali bertanggung jawab. Anda dapat menyanjung dan memaki tanpa digugat siapa pun. Anda dapat memenuhi hak apa pun kecuali hak orang lain.”

Setelah menjelaskan perihal kebebasan dan tanggung jawab, ia menawarkan etika komunikasi dialogis, yang secara singkat bisa diartikan dengan komunikasi yang setara yang tidak monologis. Katanya, seseorang yang dialogi adalah yang mendengar secara reseptif dan autentif serta merespons dengan siap dan total.

Jalaluddin Rakhmat juga menjelaskan, bahwa komunikasi yang tak jujur, tak menghargai perasaan orang lain sebagai persona, yakni kurang peka terhadap pendirian orang lain, menempatkan orang lain sebagai obyek cemoohan atau hiburan adalah komunikasi yang tak etis.

Apa yang dijelaskan Jalaluddin Rakhmat dalam tulisan ini bisa kita refleksikan era informasi yang telah jauh berkembang di era di mana Jalaluddin Rakhmat menulis tulisan ini. Dalam berkomunikasi di medsos misalnya, model komunikasi dialogis yang ditawarkan Jalaluddin Rakhmat bisa menjadi salah satu referensi sehingga perbedaan antara kita bisa menemukan solusi, dan terhindar dari konflik yang tak perlu.

Begitu kira-kira, ulasan sedikit tentang buku ini, khususnya tulisan Jalaluddin Rakhmat yang terakhir di buku ini.

Zaim Ahya, owner kedai tak selesai

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.