Ada apa dengan mata biru? Bagi penggemar Anime Naruto atau Boruto, akan langsung tertuju kepada sosok Naruto atau Boruto.

Kenapa mereka dibuat bermata biru? Bahkan ramalan tetang anak pembawa perdamaian dalam anime tersebut dicirikan dengan mata biru.

Naruto, demikian juga Boruto punya tekad pantang menyerah. Kalimat “Tidak akan menarik kata-kata dan tidak akan menyerah adalah jalan ninjaku” adalah yang sering diulang-ulang oleh Naruto.

Memang begitu adanya. Dalam anime tersebut Naruto tak pernah menyerah. Ia mampu melewati segala pendirian dengan tetap optimis. Tetap bermata biru.

Boruto memang tidak pernah mengatakan kalimat di atas sampai seri terakhir anime tersebut. Namun tekad pantang menyerahnya telah teruji. Salah satu buktinya, saat Sarada ragu apakah akan tetap mengejar Mitsuki dan membawanya kembali, Boruto dengan mantab mengatakan:

“Jika Mitsuki pergi bukan atas kemauannya sendiri, kita harus menyelamatkannya! Jika ia pergi ke jalan yang salah, kita harus mengejarnya hingga ia sadar! Itulah arti persahabatan yang sebenarnya.”

Pagi ini, untuk yang kedua kalinya penulis membaca karya Ernest Hemingway yang berjudul The Old Man and The Sea. Seperti baru bertama kali membaca, ada kalimat:

“Everything about him was old except his eyes and they were the same color as the sea and were cheerful and undefeated.”

Yang dalam terjemahan Indonesia:

“Segala sesuatu pada dirinya menggambarkan keuzuran selain sepasang matanya. Kedua mata itu berwarna serupa laut dan menyiratkan keriangan serta semangat yang tak bisa dipadamkan.”

Memang demikian adanya. Novel Hemingway yang memperoleh Nobel itu menceritakan tentang seorang laki-laki tua yang bisa mengatasi penderitaannya dalam kesendiriannya.

Di bagian awal novel tersebut, digambarkan bagaimana ia tak putus asa dan tetap berusaha mendapatkan ikan, padalah telah belajar selama delapan puluh empat hari tanpa hasil apa pun.

Tidak putus asa, bahkan larangan untuk tidak putus asa juga penulis temukan di pandangan Abul Hasan al-Asy’ari, yang saya dengar dari ngaji filsafatnya Fahruddin Faiz. Hal yang kurang lebih sama, juga bisa ditemukan di mutiara-mutiara hikmah Ibnu Athoillah Assakandari:

“Jika kau terjatuh dalam dosa, maka janganlah hal itu membuatmu putus asa beristiqomah bersama Tuhanmu. Sebab, bisa jadi itulah dosa terakhir yang ditetapkan padamu.”

Maulana Rumi juga mengatakan:

“Rasa sesalmu lebih buruk dari dosamu, maka kapan kau akan menyesali penyesalanmu?”

Maksud dari kata-kata di atas, menurut pengetahuan penulis, tidak bertentangan dengan menyesal yang menjadi salah satu syarat taubat. Yang dimaksud di atas adalah penyesalan yang mengakibatkan seseorang terperangkap dalam limbo keputusasaan dari belas kasih Allah. Sehingga ia pun menyerah dan memilih menyusuri lembah dosa semakin dalam.

Pada akhirnya, Apapun yang terjadi, tetaplah bermata biru!

Referensi:
*Penjelasan Lengkap Kitab al-Hikam Ibnu Athoillah Assakandari, penerbit Tanwir Media

*Struktur dan Makna Matsnawi Rumi, Seyed G. Safavi, penerbit Mizan

*The Old Man and The Sea, Ernest Hemingway, Charles Scribner’s Sons, New York

*The Old Man and The Sea, Ernest Hemingway, penerbit Diandra Pimamitra

*Ngaji Filsafat Fahruddin Faiz Masjid Jenderal Sudirman

*Anime Naruto

*Anime Boruto: Naruto Next Generations

Zaim Ahya, Limpung 15 Januari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.