Sekitar tahun 2010, saya sempat mengutarakan cita-cita terpendamku kepada ibu untuk menjadi penyair. Itu sesuatu yang sama sekali baru bagi ibu saya karena dalam tradisi keluarga belum pernah ada yang menjadikan penyair dan sejenisnya sebagai jalan hidup. Memang terdengar cukup main-main, tapi ibu saya saat itu menyuarakan tanggapannya dengan nada yang serius. Tanggapan yang hingga saat ini semacam menjadi artefak di dalam diri saya.

“Anak-anak ibuk mau jadi penyair, jadi polisi, jadi dokter, jadi kiai, atau jadi apapun—itu mutlak hak anak-anak, ibu mendukung semua. Menjadi apapun, yang penting bisa membantu tetangga, bisa membahagiakan orang-orang di sekitarnya, dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Termasuk ketika anak ibu menjadi penyair.”

Saya diam di pangkuan ibu yang baru rampung mendaras Qur’an. Saya menyimak. Suasana hening, subuh baru saja bergema. Lalu, ibu melanjutkan.

“Ibu tidak ridho bila anak ibu menjadi penyair, menjadi kiai, menjadi apapun, tapi tidak bisa bermanfaat bagi orang lain.”

Sungguh itu ungkapan yang klise, tapi menjadi keramat ketika itu keluar dari suara ibu. Suara yang kelak menjadi bekal saya untuk melanjutkan hidup. Saat itu saya merasa sudah mendapatkan sesuatu dari ibu saya, sekalipun ibu tak memakai dalil untuk menasihati saya, tapi kalimatnya merupakan konkretisasi dari firman Tuhan. Mungkin juga ibu telah mengekstrak ayat Qur’an untuk disampaikan dengan bahasa sehari-hari sehingga saya lebih mudah menerima dan menyerapnya sebagai norma.

Tuhan tampaknya menjawab kegelisahan saya melalui ibu, seolah-olah terdengar Tuhan baru saja berfirman lewat suara ibu. Kemudian saya teringat surah Assyu’aro ayat 224-226.

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. Tidakkah kamu melihat mereka mengembara di tiap lembah dan mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan? Kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah dan mendapat kemenangan sesudah menderita kezhaliman. Dan orang-orang yang zhalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali.”

Saya memandang kalau kehendak ibu dalam nasihatnya terhadap saya tak lain untuk mengonfirmasi daya iman, perbuatan baik, juga seberapa banyak saya akan menyebut nama Allah. Dengan kata lain, ibu saya menggarisbawahi cita-cita saya—akan percuma menjadi penyair bila keimanan, kebaikan, juga zikir, tak dirawat dan ditingkatkan kualitasnya. Dengan begitu, ibu saya tak memakai hak prerogatifnya untuk mengintervensi cita-cita anaknya, beliau hanya menunaikan tanggung jawabnya sebagai ibu dengan cara menunjukkan jalan lurus bagi pengembaraan anaknya di tengah rimba realitas.

***

Tak ada seminggu setelah subuh itu, saya menerbitkan buku puisi. Judulnya Nyanyian Sunyi. Saya menulisnya selama setahun di pondok—itu sebabnya, buku pelajaran saya lebih banyak oret-oretan puisinya ketimbang pelajaran itu sendiri. Saya kumpulkan puisi-puisi itu untuk kemudian saya terbitkan dengan cara fotokopi, sampulnya terbuat dari kertas foto. Dan di belakang sampul terpapar foto saya sedang udud. Pikir saya waktu itu merasa keren. Tentu saja, saya meminta uang ibu untuk mengeksekusi rencana agung itu. Akhirnya terbit dengan oplah 25 eksemplar.

Setelah terbit, saya bingung sendiri karena tidak tahu bagaimana cara menjualnya. Bagaimana nasib buku tersebut ke depan. Saya bolak-balik halamannya, saya pandangi dan saya baca sendiri selama beberapa hari hingga kemudian terbitlah ide brilian. Saya paksa teman-teman saya untuk membelinya—dari mulai tukang ojek, penjual kopi di tepian jalan lingkar, juga kepada paman dan pakde saya tak lepas dari target operasional teknik marketing yang sedang saya gencarkan. Tentu saja saya tahu kalau kehidupan mereka sama sekali tidak pernah berurusan dengan puisi, malah boleh jadi mereka menganggap puisi sebagai makhluk asing yang baru saja mereka dengar namanya. Tapi akhirnya mereka membeli juga setelah terintimidasi oleh wajah melas yang saya pasang.

Dan rata-rata dari mereka, membeli buku saya dengan misi agar saya tak lagi meneror. Menyedihkan, tapi itulah fakta empiris yang menggembirakan bila saya kenang hari ini.

Setahun kemudian saya kembali menerbitkan buku puisi Kelana Bertasbih, cara terbitnya nyaris sama. Pembelinya juga itu-itu saja. Tak ada bedah buku dan launching. Tak ada jumpa fans karena pembelinya tak lain orang-orang yang saya jumpai setiap hari. Terbit terbatas hanya 25 eksemplar. Saya berpikir hanya sedikit orang yang memiliki berlian atau permata. Bila saya menerbitkan dengan jumlah yang banyak, buku tersebut tak lagi menanggung keistimewaan sebagai sesuatu yang langka dan akan menjadi hal yang biasa-biasa saja. Begitulah caraku ngayem-ayem diri sendiri. Dan ternyata cukup jitu.

Kedua naskah tersebut sekarang sudah wassalam dan saya tidak dapat melacak keberadaannya, saya anggap mereka berdua sudah semayam di bilik ketiadaan. Saya ikhlas.

***

Beberapa tahun kemudian, saya menunjukkan sebuah koran yang memuat sejumlah puisiku kepada ibu. Harapan saya tentu saja beliau akan melakukan selebrasi karena nama anaknya masuk koran. Namun harapan hanyalah tinggal harapan karena ibu saya merespon dengan ekspresi yang cukup eksperimental. Sebuah respon yang membuatku nyaris khotbah di hadapan tembok.

Kuwi opo? (Itu apa?)

Dengan kebanggan yang optimum, saya tentu menjawab sambil menampilkan kegembiraan yang paling dramatis.

Puisiku, Buk. Mlebu koran. (Puisiku, Buk. Masuk koran)

Lha wis adus durung? (Lha sudah mandi belum?)

Di titik itulah saya klamut-klamut sembari mau nyleding tiang listrik. Bagaimana mungkin nama anaknya terhampar di koran tapi reaksi yang ditampilkan ibu saya justru jauh panggang dari api? Kemudian saya agak tergoda untuk mencurigai kalau ibu saya sebenarnya hanya berpikir kasihan sama anaknya sehingga perlu mengalihkan pembahasan, sebab koran manapun, bagi beliau, nasibnya hanya akan berakhir untuk membungkus rempeyek.

Dan bapak saya tak jauh beda komentarnya, malah ada nuansa teror terselubung atas devisa bulanan. Tanggapan yang agak mencemaskan bagi distribusi anggaran.

“O, berarti Usman wis iso nggolek duwit dewe? Royaltine piro kuwi? Kirimane dikurangi sesuai pendapatan royaltine, yo?” (Oh, berarti Usman sudah bisa cari uang sendiri ya? Royaltinya berapa itu? Kiriman bulanan dikurangi sesuai pendapatan royalti, ya?)

Sejak saat itu, saya berhenti mengirimkan tulisan ke koran karena takut konangan bapak. Niat hati ingin menunjukkan kepada orang tua kalau anaknya bisa begitu okesip dengan tulisannya beberapa kali dimuat di koran. Dan dengan harapan bilang, “Wuah, anakku.. aku bangga. Samsunya masih tidak? Kalau habis dikirimi lagi.”

Namun harapan saya itu bertepuk sebelah tangan. Agaknya, cara orang tua saya mengapresiasi karya anaknya ini adalah dengan cara cuek. Ini kan seperti konsep cinta sebenarnya, semakin dicuekin, semakin menggebu cintanya. Semakin tidak dianggap, semakin agresif.

Barangkali orang tua saya berinisiatif demikian setelah menyimak secara eksak atas pengalaman anaknya, bahwa untuk dapat melecut gairah anaknya dalam berkarya itu harus dilakukan dengan cara ‘cuek’ pada apapun yang saya raih. Seolah-olah di dalam situasi cuek tersebut ada semacam seruan; “bisamu cuma begitu?”

Saya teringat ketika bapak saya sepertinya cemas atas kegemaran saya yang melulu menulis puisi, tentu saja beliau cemas karena boleh jadi apa yang saya gemari ini di luar harapan beliau menyekolahkan saya jauh-jauh ke Mesir ternyata cuma malah dolanan puisi. Lalu, bapak saya sowan kepada kiai saya, Mbah Dimyati Rois, bapak saya matur akan kecemasannya tersebut.

Dan Mbah Dim tersenyum sebelum kemudian dawuh:

“Iyo ora opo-opo”.

Kali ini saya mengingat serentetan kejadian internal yang bertautan dengan proses saya sampai di titik ini. Dan tiba-tiba puisi-puisi yang saya tulis meleleh dari kedua mataku. Bapak saya ialah jemari dan ibu saya ialah pena—sementara saya ialah puisi yang ditulisnya.

Kairo
September 2019

Usman Arrumy, penyair.

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.