Pertanyaan itu serupa maknanya dengan “apa artinya hubungan tanpa ikatan?” Jangan buru-buru mengajukan jawaban dari sudut pandang asmara. Hubungan dan ikatan tidaklah sesempit itu. Hubungan dan ikatan telah menjelma simbol dari manusia sebagai mahluk sosial. Bukti bahwa manusia tidak bisa menjalani kehidupannya seorang diri. Manusia memerlukan keterhubungan.

Manusia bisa menjalin hubungan dengan siapapun dan apapun. Di dalam kelas, mahasiswa terhubung dengan teman sekelas, dosen, dan pemikiran tokoh yang sedang dipresentasikan. Dalam lingkungan kerja, karyawan terhubung dengan kolega, atasan, dan customer yang mengharapkan pelayanan prima. Di dalam rumah, seorang anak terhubung dengan orang tua, mainan, serta teman sepermainannya. Hubungan itu ada di mana-mana.

Hubungan antarmanusia semakin mudah terjalin melalui media sosial. Hubungan komunikasi bisa terjalin kapanpun dan di manapun. Kehadiran media sosial telah menghapus jarak ruang dan waktu. Membuatmu lupa bahkan tidak mengetahui tentang arti kata “rindu” atau “kangen”. Sehingga budak-budak cinta mengambil alih dua kata itu. Menggunakannya untuk menyembunyikan ekspresi ketika hormon seksual mereka sedang meningkat lantaran sudah berhari-hari tidak bergenggaman tangan.

Kini hubungan itu hanyalah keterhubungan. Hubungan yang mewujud dalam rangkaian komunikasi intensif. Saling bertatap muka, bercengkrama, bahkan tertawa bersama setiap hari. Dalam kondisi ini manusia memang terhubung, tapi tidak terikat. Hubungan itu hanya sebatas rutinitas. Kamu pun tahu, betapa menjenuhkannya sebuah rutinitas.

Simpul ikatan emosional itulah yang saat ini tidak selalu dimiliki oleh orang-orang yang saling terhubung. Jangan bayangkan ikatan emosional itu layaknya seutas tali yang menjerat leher seekor kambing. Itu bukanlah ikatan yang sebenarnya, melainkan wujud lain dari penaklukan.

Ikatan emosional tidaklah mengekang. Ia tetap menjadikanmu sebagai individu yang bebas, namun tidak melampaui batas. Ia menjadi lonceng pengingat. Agar kepala tidak mudah membesar karena sorakan pujian. Supaya tangan tetap terasa ringan untuk mengulurkan bantuan. Serta pikiran tidak latah dengan hingar-bingar kefanaan dunia.

Punyakah kamu satu ikatan itu? Atau justru sampai di sini, gambaranmu tentang ikatan emosional masih abstrak atau bahkan nampak absurd?

Lagu; Sebuah Tali Pengikat

Jika mampu merasakannya, ikatan emosional tidaklah seabstrak yang dibayangkan. Ia memiliki wujud. Bisa berupa makanan yang sering disantap bersama, suasana remang warung kopi, atau perdebatan ketika berdiskusi. Alam bawah sadar setiap orang, menemukan tali pengikat emosional yang berbeda-beda.

Alam bawah sadar saya menemukan tali pengikat emosional dalam bentuk lagu. Dibandingkan dengan media lainnya, lagu memiliki daya magis yang sulit untuk dijelaskan. Lagu membuat ikatan emosional semakin kuat, meskipun tidak lagi terhubung secara intensif. Di antara ratusan lagu yang pernah terdengar telinga, alam bawah sadar saya merekam empat jenis lagu yang masih sering saya putar hingga detik ini.

Pertama, puisi Jalaluddin Rumi yang pernah ditampilkan dalam bentuk musikalisasi oleh kawan-kawan Teater Metafisis di akhir tahun 2015. Bait demi bait puisi Jalaluddin Rumi, mengantarkan saya menjalin ikatan pertama. Perenungan panjang penggalan puisi berjudul “Akulah Angin, Engkaulah Api” menuntun saya menemukan dan menentukan jati diri. Menjumpai sebuah kesadaran bahwa “pohon indah, kala disentuh mentari”.

Kedua, lagu-lagu Iwan Fals dalam album Swami II. Album ini menjadi teman saya bergumul dengan kata dan dialektika. Melalui lirik lagunya, saya menemukan pola penyusunan kalimat yang lebih bervariasi. Khusus untuk lagu “Nyanyian Jiwa” telah menjadi lagu penguat tekat. Di tengah keputusasaan memikul tanggung jawab yang saat itu masih terlampau berat, saya lantang menyanyikan reff lagu ini. Meyakinkan diri bahwa “Aku sering ditikam cinta, pernah dilemparkan badai. Tapi aku tetap berdiri”.

Ketiga, lagu berbahasa Jawa. Ada tiga lagu berbahasa Jawa yang begitu kuat mengikat alam bawah sadar saya. “Gugur Bisma” dan “Titi Kala Mangsa” oleh Sujiwo Tejo. Selanjutnya syair yang dibawakan oleh budayawan asal Tegal, Slamet Gundono berjudul “Maca”. Satu malam penuh kawan-kawan didampingi seorang guru membedah lagu-lagu ini. Cerita sejarah, kontekstualisasi lirik, hingga sisipan saling bully membuat ikatan emosional itu semakin erat.

Keempat, beberapa lagu yang sangat tidak jelas. Jumlahnya belasan. “Tum Hi Ho”, “The Man Who Can’t Be Moved”, “Hymn for The Weekend”, dan “Panama”, hanyalah empat di antaranya. Sebenarnya saya sama sekali tidak mendapatkan pengetahuan apapun dari setiap liriknya. Lantas mengapa bisa muncul sebuah ikatan dari lagu semacam itu?

Setelah saya renungkan kembali, rupanya saya menemukan ikatan persahabatan sekaligus persaudaraan melalui belasan lagu tidak jelas itu. Lewat lagu-lagu itu, saya terikat dengan seorang kawan yang senasib. Sama-sama bodoh dan miskin. Hanya berbekal tekad, kami belajar mengasah kemampuan yang kami yakini sebagai jati diri.

Dalam proses pembelajaran yang panjang dan keras itu, kawan saya hanya bisa fokus belajar dengan mendengarkan lagu-lagu tidak jelas itu. Sebagai kawan seperguruan, mau-tidak mau, saya dipaksa ikut mendengarkannya. Sesekali suaranya yang fales dengan nada yang datar, ikut menirukan lirik lagu. Seketika, keheningan pecah oleh tawa.

Meskipun berguru pada orang yang sama, proses pembelajaran itu menuntun kami berdua pada jalan hidup yang berbeda. Kami memang tidak lagi terhubung, namun belasan lagu tidak jelas itu tetap menjadi pengikat. Saat ini saya tidak tahu lagi, lagu apa yang sedang kawan saya dengarkan untuk mencapai titik fokus dalam proses belajarnya. Saya hanya berharap, apapun lagu yang saat ini ia putar, bisa menemaninya dalam meniti perjalanan. Bukan malah menyesatkannya dalam sebuah pelarian.

Empat jenis lagu itu yang mengikat saya hingga detik ini. Sebagai pengingat bahwa saya masih bodoh dan pernah menjadi sangat bodoh. Bahwa saya masih miskin dan pernah sangat miskin. Pengingat bahwa saya pernah dikuatkan, dipintarkan, dan diselamatkan oleh ikatan itu.

Sudahkah kamu menemukan ikatan dalam hubungan yang tengah kamu jalin saat ini?

Nashokha

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.