Saya suka menonton film kungfu yang menceritakan masa lalu. Misalnya film Golok Pembunuh Naga. Bagi saya film semacam ini bukan hanya sekedar pertarungan fisik tapi juga ada pertarungan ideologi dan keyakinan hidup. Ada kata-kata dari film ini yang sampai sekarang masih terngiang dalam benak, yaitu kata-kata dari guru besar perguruan Bu Tong kala itu. Guru itu mengatakan,

“lelaki mati satu kali, tapi harus bermakna.”

Kata-kata Guru Bu Tong itu sekilas biasa saja, tapi kalau direnungkan mempunyai ma’na yang dalam. Penulis sendiri sering menggunakan kata-kata itu dalam obrolannya. Baik untuk memotivasi orang lain mauapun diri sendiri ketika dalam keadaan tak bersemangat. Bagi penulis, ma’na kata-kata itu sangat dalam, karena dengan kematian yang berma’na itu menandakan hidup kita di dunia tidak sia-sia. Dan, bisa jadi itu yang membedakan manusia dari makhluk yang lain. Kalau kematian seorang manusia tidak berma’na, lalu apa bedanya dia pernah hidup dan tidak?

Dalam hazanah Islam klasik, manusia, dalam konteks sosial, terbagi menjadi tiga golongan. Pertama, manusia yang dibaratkan seperti malaikat, selalu membawa manfaat dan kebahagiaan bagi manusia lain. Kedua, manusia yang keberadaannya sama dengan ketiadaannya, sama-sama tidak mendatangkan manfaat, kebahagiaan dan kerusakan, kesusahan bagi manusia lain. Sedangkan yang ketiga, manusia yang keberadaannya menyusahkan, merusak dan meresahkan manusia yang lain (al-Ghazali).

Dari tiga golongan manusia di atas, kiranya yang searti dengan kata-kata Guru Bu Tong tersebut adalah manusia golongan pertama. Karena manusia golongan pertama ini selalu menebarkan kebahagian, bukankah tak ada yang lebih berma’na dari selain bermanfaan dan membahagiakan manusia yang lain? [Za]

Ngalian 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.